Bukit Serelo

Icon dari kota kecil Kabupaten Lahat yang kaya akan Sumber Daya Alam, Budaya dan Bahasa.

Megalith

Peninggalan sejarah yang banyak terdapat di Kabupaten Lahat.

Ayek Lematang

Aliran sungai yang terdapat di Kabupaten Lahat.

Air Terjun

Obyek keindahan alam yang terbanyak di Kabupaten Lahat.

Aktivitas Masyarakat Pedesaan

Kota Lahat yang subur kaya akan hasil perkebunan.

Rabu, 23 Maret 2022

AYEK LANTUNG 3 TINGKAT NAN MEMIKAT

Staf Khusus Bupati Lahat, Camat Pagar Gunung, Kades Kedaton dan perangkat di Air Terjun Lantung Desa Kedaton

Ungkapan yang menyebut potensi kekayaan dan keindahan Kabupaten Lahat tak akan pernah habisnya di eksplore adalah sangat tepat. Hampir setiap bulan bahkan setiap minggu berita tentang eksplorasi kekayaan dan keindahan alam Kabupaten Lahat tak pernah putus dibahas dan diberitakan.

Pada minggu kedua di bulan Februari ini Bupati Lahat Cik Ujang melalui Staf Khusus Bupati Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mario Andramartik menyampaikan hasil peninjauan ke air terjun di Desa Kedaton Kecamatan Pagar Gunung. Mario yang juga merupakan Ketua Panoramic of Lahat langsung meninjau air terjun bersama Marles Yuniardi Camat Pagar Gunung, dan Yeni Heriyanti Kepala Desa Kedaton beserta perangat desanya.

Yeni Heriyanti sebagai Kepala Desa Kedaton yang baru terpilih akhir tahun 2021 didampingi Deni Saputra Sekretaris Desa, Nita Heryanti Ketua BPD, 5 orang Kadus; Eli Rahayu Kadus 1, Andi Ajis Kadus 2, Hairol Saleh Kadus 3, Herdiansyah Kadus 4, Marliani Kadus 5, Kenidy Bendahara Desa, Satal Kaur Pemerintah beserta 4 staf desa dan anggota Karang Taruna Desa Kedaton bersama-sama berjalan kaki dari desa menuju air terjun.

Perjalanan di mulai dari Kantor Desa Kedaton yang terletak di Dusun Lekung Daun yang tepat berada di tepi jalan lintas Lahat – Pagaralam. Di lokasi ini nantinya akan menjadi pintu utama menuju air terjun dan juga area parkir. Dari titik ini lalu kami lanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri kebun karet dan kopi serta beberapa bidang tanah yang belum digarap alias masih berupa semak belukar. Jalan menuju air terjun masih berupa jalan rintisan yang baru saja dibuka seminggu yang lalu sehingga masih banyak ranting di tengah jalan. Jalan belum dapat dilalui dengan kendaraan apapun. Kontur jalan sedikit bergelombang dengan turunan dan tanjakan yang relative landai sehingga tidak banyak menguras tenaga.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit tibalah di aliran sungai Lantung. Tepat dimana kami berada merupakan bagian atas daripada air terjun. Dari sini kita hanya dapat melihat air mengalir dan jatuh ke bawah. Bagian atas air terjun ini banyak ditumbuhi pohon bambu sehingga area sangat rimbun.

Untuk dapat melihat air terjun maka kami harus berjalan agak menjauh dari sungai kemudian masuk ke kebun kopi dan menuruni jalan di sela-sela pohon kopi. Jalan hanya sedikit menurun sehingga tidak menyusahkan kami untuk menuruninya. Lima menit kemudian sampailah kami di aliran sungai dan ketika melihat ke arah kanan  maka akan terlihat air terjun tetapi hanya bagian bawahnya saja karena bagian atas air terjun tertutup rimbunnya pepohonan di sekitar air terjun.

Kami berjalan menyusuri sungai sejauh 10 meter dan bentuk rupa air terjun sudah terlihat jelas. Air terjun ini masih sangat alami terlihat dari bebatuan di kawasan ini masih berwarna hijau karena diselimuti lumut juga ranting-ranting banyak menjulai hingga sampai ke sungai, sinar mataharipun sedikit sekali karena terhalang rimbunnya pepohonan. “Saranku agar semua pohon di kawasan ini tidak ditebang dan tetap terjaga agar ekosistem air terjun tetap bagus” demikian saran yang aku sampaikan kepada Camat, Kades dan seluruh perangkat desa yang ikut survey air terjun ini. Udara di sini sangat sejuk dan asri, air sungaipun sangat jernih dan bersih ditambah keindahan air terjun yang berbentuk undakan dan air yang mengalir jatuh membentuk lubuk di bawah air terjun yang dapat digunakan untuk berenang.

Air terjun di mana kami berada merupakan air terjun kedua dari 3 air terjun yang ada di kawasan ini. Air terjun kedua ini mempunyai ketinggian sekitar 20 meter. Kami belum bisa melihat air terjun yang paling atas karena jalur menuju air terjun tersebut masih terlalu terjal dan belum sama sekali ada aksesnya. Air terjun paling atas diperkirakan mempunyai ketinggian sekitar 5 meter sedangkan air terjun ketiga yang berjalan sekitar 20 meter dari air terjun kedua belum dapat kami lihat karena tertutup rimbunnya pepohonan dan semak belukar.

Kami sangat menikmati suasana dan  keindahan air terjun Lantung ini. Kami sempatkan untuk berfoto dan mengambil beberapa video untuk dokumentasi. Dan kamipun sempat berdiskusi untuk rencana pengembangan 3 air terjun ini. Air terjun Lantung 3 tingkat nan memikat ini sangat layak untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan Desa Kedaton Kecamatan Pagar Gunung. Beberapa faktor yang sangat mendukung adalah letaknya yang sangat dekat dengan desa yaitu sekitar 1 km, jarak tempuh dari pusat kota Lahat sekitar 25 km, berada di jalan lintas Lahat – Pagaralam yang merupakan jalur perjalanan wisata, ada 3 air terjun di satu aliran sungai, masih alami dan asri, masyarakat beserta perangkat desa yang dikomandoi Kepala desa, Ketua BPD dan Camat sangat mendukung. Dengan banyaknya faktor pendukung tersebut insyaAllah daya tarik wisata ini cepat menjadi destinasi wisata unggulan, apalagi di dukung dengan dana dari APBD atau DAK Kementerian.

Seperti kita ketahui bahwa Kabupaten Lahat mempunyai sangat banyak air terjun, dari data yang disampaikan Panoramic of Lahat hingga tahun 2022 terdapat 185 air terjun di Kabupaten Lahat mungkin jumlah ini merupakan jumlah terbanyak kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki air terjun.

 

Dari ratusan air terjun tersebut baru dalam hitungan jari air terjun yang telah berkembang menjadi destinasi wisata. Hal ini terjadi bukan hanya di Kabupaten Lahat mungkin terjadi di banyak daerah di Indonesia. Ada beberapa kendala utama pertumbuhan dan pengembangan pariwisata saat ini yaitu : (1) masih buruknya akses jalan dan telekomunikasi menuju atau di lokasi daya tarik wisata/destinasi wisata; (2) terbatasnya keterampilan tenaga kerja dan pelayanan pariwisata; (3) lemahnya dukungan untuk investasi swasta pada sektor pariwisata; dan (4) lemahnya koordinasi antar dinas/lembaga, pusat-daerah, pemerintah-swasta dalam pengembangan pariwisata dan dalam pelestarian kekayaan alam dan budaya. Apabila kendala tersebut dapat diatasi secara terpadu, maka akan mampu mengembangkan industri pariwisata yang bertaraf nasional bahkan internasional.

 

Semoga dengan kekompakan dan semangat dari berbagai pihak di Desa Kedaton akan mampu mengembangkan potensi desa yang akan berdampak positif terhadap peningkatan perekonomian masyarakat desa dan peningkatan pendapatan asli daerah Kabupaten Lahat menuju Kabupaten Lahat Bercahaya. (Mario Andramartik, 19 Februari 2022).

 

 

Rabu, 16 Maret 2022

PESONA TERSEMBUNYI KOTA LAHAT

Pemandangan Cughup Gerinsing


Kota Lahat merupakan ibukota Kabupaten Lahat dan merupakan kota tua di Sumatera Selatan dengan dibuktikan banyaknya peninggalan gedung-gedung tua yang dibangun pada awal tahun 1900an. Sebagai pusat kegiatan pemerintah dan bisnis, Kota Lahat terus berkembang seiring dengan perkembangan waktu. Saat ini Kota Lahat menjadi pintu utama masuknya para wisatawan yang ingin berkunjung ke Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam. Setiap akhir pekan Kota Lahat dibanjiri wisatawan yang datang dari daerah sekitar seperti Muara Enim, Pali, Prabumulih dan Palembang.

Tepian sungai Lematang menjadi pusat kunjungan wisatawan setiap akhir pekan karena kawasan ini sejak masa kolonial telah terkenal sebagai kawasan wisata dan sejak tahun 2017 kawasan ini makin ramai dikunjungi wisatawan karena banyaknya pelaku wisata yang membuka usaha pariwisata seperti restoran/resto dan taman rekreasi.  Tak heran setiap akhir pekan Tepian Sungai Lematang dipadati kendaraan dari luar Kabupaten Lahat. Selain itu Kota Lahat masih memiliki destinasi wisata seperti Taman Ayek Lematang, Puncak Gugah, Pagar Park dan  Taman Rekreasi Ribang Kemambang. Tapi masyarakat Kota Lahat masih belum banyak yang tahu bahwa di Kecamatan Lahat ada beberapa air terjun atau masyarakat Lahat menyebutnya dengan nama cughup.

Hari ini Sabtu 12 Februari 2022 terkuak sudah bahwa di Kecamatan Lahat ada air terjun tepatnya di Desa Padang Lengkuas. Desa yang terletak di jalan lintas Sumatera Lahat – Muara Enim ini berjarak sekitar 3,5 km dari pusat pemerintahan Pemkab Lahat atau perjalanan 10 menit. Sepintas kita tidak akan percaya bahwa di Desa Padang Lengkuas Kecamatan Lahat terdapat air terjun atau cughup karena desa yang berada di jalan lintas Sumatera dan sungai Lematang ini berupa daerah dataran rendah. Setelah kami survey bersama Kepala Desa yang baru dilantik pada tanggal 24 Desember 2021 lalu ternyata terdapat beberapa air terjun.

Desa Padang Lengkuas Kecamatan Lahat mempunyai luas wilayah sekitar 2.000 ha dengan luas pemukinan sekitar 4 ha dan sisanya berupa perkebunan dan persawahan. Desa ini berpenduduk sekitar 750 jiwa dengan mayoritas penduduk bermata pencarian sebagai petani sebanyak 95% dengan rincian 65% petani karet, 30% menggarap sawah dan 5% bertani kopi. Pemukinan desa di apit Desa Ulak Lebar di sebelah Barat dan Desa Kota Raya di sebelah Timur serta di bagian Selatan berbatas dengan Desa Muara Cawang Kecamatan Lahat Selatan dan Talang Akar Kecamatan Merapi Selatan

Staf Khusus Bupati Lahat Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mario Andramartik bersama Kades Padang Lengkuas Sabroni didampingi Sekretaris Desa Harwansyah, Kaur Aset Sam Sahuri, Kasie Pemerintahan Yogi Pratama, Kadus 2 Erwinsyah, Pendamping Desa Lokal Yulianti, Tokoh Pemuda Desa Dendi Rius, Syawaludi, Solo Afandi, Idham dan Novi langsung melakukan peninjauan lokasi air terjun/cughup di Desa Padang Lengkuas. Perjalanan dengan sepeda motor di mulai dari kediaman Kepala Desa lalu menyeberangi jembatan gantung di Sungai Lematang kemudian melintasi jalan setapak dengan pemandangan kebun karet, kebun pisang, kebun kopi dan persawahan. Ketika melintasi persawahan kami disuguhkan pemandangan padi nan menguning dan belasan ibu-ibu memanen padi dengan alat tradisional, suatu pemandangan yang langka di sebuah perkotaan. Di benakku langsung teringat dengan destinasi wisata di Magelang, Jawa Tengah yaitu Svargabumi yang menyulap hamparan sawah menjadi destinasi wisata unggulan dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Foto bersama di Cughup Gambir


Sekitar perjalanan 15 menit kami memasuki jalan yang baru dibuka dengan lebar sekitar 10 meter. Jalan ini masih berupa jalan tanah yang nantinya menghubungkan Jembatan Lematang 2 yang saat ini masih dalam kontruksi pembangunan ke wilayah Lahat Selatan dan rencana pembangunan komplek Perkantoran Pemkab Lahat yang baru.

Kami menyusuri jalan tanah ini walaupun masih berupa jalan tanah tetapi sudah terlihat bahwa jalan ini akan menjadi jalan yang bagus dan membuka akses pengembangan Kota Lahat. Tepat di ujung jalan tanah ini yang berbatasan dengan perkebunan kelapa sawit PT Arta Prigel kami belok ke kiri masuk ke jalan setapak dengan semak belukar di kiri dan kanan jalan. Hanya dalam waktu kurang dari 5 menit atau jarak 200 meter kami berhenti di aliran sungai Gambir dan tepat di atas kami berdiri merupakan air terjun/cughup.

Lalu kami langsung menuruni tebing terjal dengan cara berpegangan dengan akar-akar pohon dan terlihat air terjun/cughup. Untuk menuju ke air terjun kami harus menebas semak belukar untuk membuka akses jalan karena cughup ini belum sama sekali dikunjungi atau dikembangkan sebelumnya. Pembukaan akses ke cughup ini baru dilakukan oleh Sabroni sang kepala desa yang baru terpilih 9 Desember 2021 lalu. Jadi perjalanan survey hari ini merupakan gebrakan baru dari kepala desa yang baru saja terpilih. Hal ini juga yang membuat  Staf Khusus Bupati Lahat Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif langsung merespon cepat ketika mendapat informasi dari warga desa bernama Idham untuk melakukan survey.

Cughup yang berada di aliran sungai Gambir ini mempunyai ketinggian sekitar 10 meter dengan lebar sekitar 5 meter dengan kondisi masih dipenuhi semak belukar dan bebatuan yang besar di bawah cughup. Cughup ini disebut Cughup Mentiring dengan airnya yang jernih. Selain keindahan cughup di area ini juga dapat melihat bentang alam yang luas bah bentangan permadani hijau dengan Bukit Serelo yang menjulang bah jempol raksasa. Yach suatu pemandangan yang sangat luar biasa yang berada di Kecamatan Lahat. Juga area di atas cughup Mentiring dengan kontur tanah yang datar sangat layak untuk dijadikan camping ground atau lokasi berkemah. Maka kawasan yang hanya berjarak sekitar 2 km dari desa Padang Lengkuas atau dari Jembatan Lematang 2 sangat layak untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata alam.

Kemudian kami melanjutkan untuk melihat cughup yang kedua yang berada di aliran sungai Temiang. Kami melintasi jalan dengan lebar 3 meter berupa jalan berbatu yang merupakan jalan perkebunan kelapa sawit lalu belok ke kiri sejauh 50 meter dan tibalah di atas cughup. Dari atas cughup, kami harus menebas semak belukar untuk menuju cughup dan menuruni sedikit tebing yang tidak begitu terjal. Sesampai di aliran sungai Temiang kamipun harus membersihkan ranting dan semak belukar yang menutupi cughup. Jadi cughup kedua ini juga masih sangat alami, asri dan belum terjamah sebelumnya.

Kami bersama-sama mencoba membersihkan ranting dan semak belukar yang menutupi cughup dan sesudahnya kami berfoto bersama. Cughup dengan airnya nan bersih dan jernih ini disebut sebagai Cughup Geringsing. Dengan ketinggian hanya 5 meter dan bentang cughup hingga 25 meter dan air yang jatuh membentuk undakan sehingga cughup ini terlihat lebih indah.

Tanpa kami sadari waktu telah melewati pukul 12 siang dan kamipun sudah terasa lapar sehingga kami makan bersama dengan duduk di atas batu di aliran sungai Temiang ini. Walaupun hanya makan nasi bungkus dan minum air mineral yang telah di bawa oleh perangkat desa tetapi terasa nikmat dan lezat sembari menikmati keindahan cughup Geringsing.

Berjuta kegembiraan yang kami rasakan karena telah berhasil meninjau kekayaan alam Desa Padang Lengkuas yang selama ini terlantar dan tersembunyi. Semoga ke depan daya tarik wisata desa ini dapat dikembangkan oleh desa yang akan memberikan dampak positif terhadap pengembangan ekonomi desa. Langkah awal pengembangan daya tarik wisata desa dengan membentuk Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis yang mendapat Surat Keputusan pembentukan dari Dinas Pariwisata yang selanjutnya dikukuhkan oleh Bupati. Pembentukan Pokdawis di setiap desa sudah sesuai dengan Pedoman Pokdarwis yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan untuk pengembangan daya tarik wisata desa dapat menggunakan Dana Desa sesuai dengan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2021 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2022. Harapan kita bersama untuk pengembangan pariwisata Kabupaten Lahat akan dapat terwujud menuju Kabupaten Lahat Bercahaya. (Mario Andramatik Sabtu,12 Februari 2022).

Kamis, 17 Februari 2022

KARANG DALAM SI PUTRI TIDUR

                                     Cughup Terlantang Desa Karang Dalam

Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan selama ini terkenal dengan sebutan Negeri Seribu Megalit. Hal ini karena di kabupaten ini banyak ditemukan  peninggalan megalitik yang berusia 3.000 tahun. Pada tahun 2012 Kabupaten Lahat mendapatkan rekor MURI sebagai pemilik situs megalit terbanyak se Indonesia. Dari data yang dihimpun oleh Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Panoramic of Lahat di Kabupaten Lahat saat ini terdata 66 situs megalit yang tersebar di 52 desa dan 14 kecamatan. Dengan demikian sangat wajar bila Kabupaten Lahat berjuluk Negeri Seribu Megalit.

Ternyata di Kabupaten Lahat juga ditemukan daya tarik wisata lainnya bahkan jumlahnya juga tergolong spektakuler yaitu air terjun atau dalam bahasa Lahat disebut dengan “cughup”. Selama ini masih banyak yang kurang tepat menyebut air terjun dengan sebutan curup atau cughop. Yang tepat adalah cughup.

Masih menurut data dari Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Panoramic of Lahat bahwa di Kabupaten Lahat terdapat 183 air terjun atau cughup yang tersebar di 20 kecamatan dari total 24 kecamatan yang berada di Kabupaten Lahat.

Kali ini kita ke Kecamatan Pulau Pinang yang berdekatan dengan kecamatan Lahat sebagai ibukota kabupaten. Kecamatan Pulau Pinang merupakan kecamatan induk dari 3 kecamatan yaitu Kecamatan Pagar Gunung, Gumay Ulu dan Pulau Pinang sendiri. Pemekaran pertama tahun 2006 dengan terbentuknya Kecamatan Pagar Gunung kemudian terjadi pemekaran lagi dengan terbentuknya Kecamatan Gumay Ulu pada tahun 2008. Saat ini Kecamatan Pulau Pinang terdiri dari 10 desa yaitu: Tanjung Mulak, Pulau Pinang, Lubuk Sepang, Tanjung Sirih, Perigi, Karang Dalam, Pagar Batu, Kuba, Jati dan Muara Siban. Kecamatan Pulau Pinang mempunyai luas wilayah 111,67 km2 dengan ibukota kecamatan di Desa Jati.

 

Kecamatan Pulau Pinang dengan kontur perbukitan dengan ketinggian berkisar 134 – 300 mdpl berada di sepanjang sungai Lematang dengan anak sungainya seperti sungai Liem, sungai Ketapang, sungai Asam, sungai Salak dan sungai Mulak. Dari anak-anak sungai Lematang tersebut banyak ditemukan cughup. Saat ini di Kecamatan Pulau Pinang sudah terdata oleh Panoramic of Lahat ada 16 cughup yang berada di desa Lubuk Sepang, Perigi, Tanjung Mulak, Pulau Pinang dan Karang Dalam.

 

Dari ke-5 desa yang mempunyai air terjun di Kecamatan Pulau Pinang, Desa Karang Dalam yang mempunyai paling banyak air terjun. Di desa ini tidak kurang ada 8 air terjun dan 7 air terjun berada di satu aliran sungai yaitu sungai Asam. Ke-7 air terjun di sungai Asam adalah air terjun Sumbing, Ujan Panas, Pandak, Bidadari, Sebahak, Terlantang dan Pegadungan. Hal ini yang sangat mengagumkan dan menjadi daya tarik tersendiri karena tidak setiap sungai mempunyai air terjun sebanyak yang berada di sungai Asam.

 

Kondisi saat ini ke-7 air terjun tersebut masih belum tersentuh pengembangan sehingga belum menjadi destinasi wisata padahal pada tahun 1985 hingga akhir tahun 1990an air terjun di Desa Karang Dalam menjadi primadona kunjungan ke air terjun di Kabupaten Lahat. Kala itu tingkat kunjungan setiap akhir pekan ke air terjun di Desa Karang Dalam bisa dikatakan tertinggi di Kabupaten Lahat. Sebagai primadona kunjungan adalah air terjun Bidadari. Disebut air terjun Bidadari karena di air terjun ini yang sebelumnya bernama air terjun Rebah Lawang dijadikan syuting film nasional berjudul Si Pahit Lidah dengan adegan bidadari mandi di air terjun yang diperankan oleh artis nasional Ria Irawan dan Advent Bangun. Setelah pemutaran film Si Pahit Lidah maka air terjun Bidadari dibanjiri wisatawan dari penjuru Kabupaten Lahat dan Sumatera Selatan. Hal ini tentu membawa berkah bagi masyarakat Desa Karang Dalam sehingga tercipta destinasi wisata kuliner Jagungan dimana wisatawan dapat menikmati jagung rebus setelah berwisata di air terjun.

 

Saat ini untuk mengunjungi air terjun Bidadari, Sebahak dan Terlatang yang merupakan air terjun ke-4, 5 dan 6 tidaklah sulit karena pemerintah telah membangun jalan setapak, sehingga untuk mencapai air terjun Bidadari dari desa dengan sepeda motor kurang dari 5 menit dan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 15 menit saja.

 

Untuk menuju ke air terjun Sebahak dan Terlantang dari desa dengan mengunakan sepeda motor sekitar 5 menit perjalanan dengan menyusuri jalan setapak yang telah di cor kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit untuk tiba di air terjun Sebahak. Perjalanan selama 15 menit dengan menyusuri jalan tanah di perkebunan kopi. Kontur jalan hanya sedikit bergelombang dan tidak banyak menguras tenaga.

Setiba di air terjun Sebahak kita akan disajikan pemandangan yang cantik dengan air terjun berair jernih dengan tinggi sekitar 5 meter dan lebar hingga 10 meter serta lubuk dengan luas sekitar 10 meter berkedalaman hingga 1,5 meter. Dengan lubuk seperti ini sangat nyaman untuk berenang dan bermain air. Di sekitar air terjun ditumbuhi banyak pepohonan sehingga terasa sangat sejuk.

 


Dari air terjun Sebahak kami menuju ke air terjun Terlantang dengan cara mendaki tepi air terjun dengan berpegang dengan akar kayu dan menapaki bebatuan dinding air terjun sehingga celana dan baju kami basah. Selanjutnya dari atas air terjun Sebahak kami berjalan sekitar 20 meter menyusuri sungai Asam, disini ada satu undakan dengan ketinggian sekitar 3 meter dan dibawahnya terbentuk lubuk yang luas. Kami terus berjalan di aliran sungai Asam dengan kedalaman bervariasi dari  semata kaki hingga sebatas pinggang yang membuat celana kami semakin basah.

 

Setelah berjalan menyusuri sungai sejauh 150 meter dari air terjun Sebahak tibalah kami di air terjun Terlantang. Kami duduk di bawah pohon jambu air yang tepat berada 20 meter dari depan air terjun Terlantang. Aku sibuk dengan kamera jadulku Nikon D80 yang aku beli tahun 2006 untuk mengambil sudut terindah dari air terjun ini sedang Ketua BPD Desa Karang Dalam Kurni Burmansyah sedang asyik meracik kopi untuk kami minum sembari menikmati keindahan air terjun berlubuk luas ini. Sementara lainnya Kaur TU dan Umum Hariadi atau sering dipanggil Adi dan Ketua Karang Taruna Nermansyah beserta 2 anggota Karang Taruna Abel dan Yudi mengambil foto dan video dengan kamera handphone mereka. Air terjun Terlantang berada di ketinggian 300 mdpl dengan lebar bentang dinding air terjun sekitar 15 meter, tinggi 6 meter dan luas lubuk sekitar 20 meter dengan kedalaman air mencapai 2 meter. Di atas air terjun ini terdapat kebun kopi dengan pohon pembayang berupa pohon durian dan jengkol. Di kawasan ini banyak ditanam pohon kopi jenis Liberika atau masyarakat Lahat menyebutnya kopi tupak.

 

Setelah merasa puas berada di air terjun Terlantang kami bergegas kembali ke desa karena hari telah siang. Dari air terjun kami ke hilir dengan menyusuri sungai sejauh 50 meter lalu naik ke kebun kopi dan setelah berjalan sekitar 15 menit kami tiba dimana kami meninggalkan sepeda motor di ujung jalan setapak yang telah di cor. Sepeda motor yang kami tinggal di tepi jalan setapak tak bergeser sedikitpun, hal ini menunjukkan bahwa di desa ini sangat aman meninggalkan kendaraan di tengah kebun. Kondisi ini merupakan modal besar dalam pengembangan pariwisata sesuai dengan Sapta Pesona dengan poin pertama Aman.

 

Abel segera menghidupkan motornya dan aku duduk dibelakang Abel begitu juga dengan Burmansyah dan Nermasyah menghidupkan motor mereka masing-masing dan kami semua kembali ke desa dengan mengendarai sepeda motor. Perjalanan kembali ke desa terasa sangat singkat tak lebih dari 15 menit karena jalanan menurun dengan melalui jalan setapak yang telah di cor beton. Setiba di desa kami langsung ke rumah Kepala Desa Iwan Iggalasi,Spd yang telah menunggu kami. Awalnya Iwan akan ikut bergabung ke air terjun tetapi karena ada hal penting di Kota Lahat sehingga tidak bisa ikut. Setiba di rumah Kepala Desa aku duduk di pance (bangku terbuat dari bambu) dan ketika melihat ke kaki ada beberapa lintah menempel di kakiku dan setelah aku lepaskan lintah tersebut mengalir darah segar dari bekas gigitan lintah. Hal ini sudah resiko biasa bila kita ke sungai yang masih alami dan belum banyak tercemar bahan kimia. Tak selang berapa lama istri Iwan sudah menyuguhkan minuman kopi untuk kami nikmati, hal ini juga terjadi ketika kami baru tiba di desa ini juga disuguhkan minuman kopi.

 

Untuk menikmati 4 air terjun lainnya yaitu air terjun Sumbing, Ujan Panas, Pandak dan Bidadari dapat dilakukan dengan berjalan kaki dari desa ke sungai Asam. Di awal kita akan melihat sebuah lubuk yang disebut masyarakat sebagai Gelung Nage yang konon dahulunya sebagai tempat tinggal ular naga lalu berjalan menyusuri sungai dan tiba di air terjun Sumbing. Disebut sumbing karena ada patahan di bagian dinding atas air terjun yang konon sebagai jalur lintasan ular naga. Kemudian menyusuri sungai Asam lagi untuk sampai di air terjun Ujan Panas. Air terjun dengan ketinggian sekitar 20 meter dan dibawahnya terdapat lubuk dengan luas sekitar 10 meter. Disebut air terjun Ujan Panas karena di air terjun ini sering terlihat pelangi seperti ketika hujan di siang hari dan muncul pelangi.

 

Dari air terjun Ujan Panas menuju air terjun Pandak dengan jarak sekitar 100 meter harus mendaki tebing dengan berpegangan dengan akar-akar pohon karena belum ada akses jalan di tepi sungai Asam. Setelah melewati tebing dinding di tepi air terjun dilanjutkan menyusuri sungai asam dengan kedalaman hingga setinggi betis. Dari air terjun Pandak sudah dapat melihat air terjun Bidadari yang berjalan kurang dari 50 meter.

 

Tim Panoramic of Lahat di Cughup Terlantang

Betapa asyik dan menakjubkan bila kelak dibangun jalan di sepanjang tepi sungai Asam sehingga bisa berjalan kaki menikmati keindahan sungai, air terjun, perkebunan kopi, karet dan durian. Sepanjang sungai dapat menikmati bunga warna-warna dan singgah di pondok-pondok bambu untuk menikmati kelezatan ikan ghuas dan lemang serta menyeruput kopi khas Karang Dalam. Dapat juga bermalam dengan memasang tenda di tepi sungai dekat air terjun yang dihibur dengan suara gemericik air dan nyanyian burung dan jangkrik.

 

Semoga nantinya daya tarik wisata Desa Karang Dalam berupa air terjun dan situs megalit Batu Aji yang hanya berjarak 14 km dari pusat Kota Lahat dan berada di perlintasan jalur wisata Lahat – Pagaralam ini dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan Kabupaten Lahat yang akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan perekonomian masyarakat Desa Karang Dalam dan pendapatan asli daerah Kabupaten Lahat menuju Lahat Bercahaya. (Mario Andramartik, 14 Desember 2021). 

Selasa, 07 Desember 2021

LAHAT KOTA PUSAKA (Jelajah Negeri Mengenal Budaya)

Rumah bercorak Indies Style dibangun tahun 1931


Pada saat ini dimana wabah covid 19 masih belum tuntas sehingga banyak kegiatan yang sempat tertunda. Kalaupun mau dilaksanakan harus mengikuti protokol kesehatan yang ketat atau kegiatan tetap berlangsung secara daring. Setelah mengikuti beberapa kegiatan secara daring tentu cukup membosankan hal hasil tetap ingin mengadakan kegiatan offline dengan mendatangi lokasi secara langsung.

Panoramic of Lahat yang aktif terhadap pelestarian peninggalan cagar budaya yang ada di Kabupaten Lahat bahkan pernah mendapat penghargaan atas komitmen, dedikasi dan jasa dalam upaya pelestarian cagar budaya di wilayah Sumatera Bagian Selatan dari Kemendikbud Republik Indonesia pada perayaan Hari Purbakala ke-105 di Perpustakaan Nasional, Jakarta tahun 2018 terus melakukan sesuatu dalam upaya pelestarian cagar budaya.

Kali ini Ketua Panoramic of Lahat, Mario Andramartik bersama dengan 3 pelajar SMA melakukan touring wisata budaya. Sebagaimana diketahui Kota Lahat menyimpan banyak peninggalan bangunan masa kolonial  dan sebagian besar bangunan tersebut masih berdiri kokoh. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri dan dapat dikemas menjadi destinasi wisata sejarah bahkan Kota Lahat dapat dijadikan Kota Pusaka.

Kegiatan diawali dengan kunjugan ke beberapa perumahan pergudangan bengkel kereta api. Di kawasan ini masa kolonial sekitar tahun 1931 Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen membangun pergudangan kereta api berikut dengan komplek perumahan manager dan karyawannya. Kawasan  pergudangan dan perumahan bengkel kereta api saat ini sudah menjadi satu kelurahan yang bernama Kelurahan RD PJKA Bandar Agung. Di kawasan ini terdapat satu gudang dengan luas lebih dari 1 ha, 7 rumah manager dengan luas bangunan masing-masing sekitar 137 meter persegi, 12 rumah dengan ukuran bangunan 130 meter persegi sepertinya menjadi rumah supervisor di masa itu dan puluhan rumah dengan model kopel sepertinya menjadi rumah karyawan pergudangan bengkel kereta api.

Mario bersama 3 pelajar SMA yaitu Toti dari SMAN 4 Lahat, Mahdi SMAN 6 Palembang dan Nafel Pesantren Daarut Tauhid Bandung dengan mengendarai sebuah mobil melaju ke arah Simpang 4 Kota Lahat dengan menyusuri jalan Letnan Amir Hamzah. Dan pada awalnya Belanda membangun jalan dari arah Muara Enim ke Lahat yang saat ini menjadi jalan RE Martadinata terus lurus ke jalan Letnan Amir Hamzah lalu belok kanan ke Simpang 4 lurus ke arah jalan Prof.Dr.Emil Salim terus ke Tebing Tinggi dan belok kiri ke jalan Letjend Harun Sohar ke arah Pagaralam serta belok kanan ke jalan Mayor Ruslan pusat pertokoan Kota Lahat.

Dari simpang 4 kami masuk ke jalan Letjend Harun Sohar, jalan ini banyak bangunan masa kolonial  seperti Juliana Hospital yang saat ini menjadi RS DKT, Gereja Santa Maria, Rumah Dinas Manager PLN, Lapangan PJKA dan Kantor PM. Di jalan Letjend Harun Sohar saat ini berdiri kokoh barisan pohon mahoni dan merupakan pohon mahoni terbesar yang tumbuh di Kabupaten Lahat bahkan Sumatera Selatan. Dan tentu pohon mahoni dengan diameter lebih dari 1 meter ini ditanam lebih dari 100 tahun yang lalu di masa kolonial.

Dari jalan Letjend Harun Sohar belok ke kanan ke komplek sekolah Santo Yosef disini ada SD Santo Yosef yang dibangun tahun 1936, SMP dan Klinik Santo Yosef dibangun tahun 1938, lalu ada 7 rumah di dekat lapangan PJKA merupakan rumah bergaya Indies yang dibangun masa kolonial dengan kondisinya hingga kini masih bagus dan kokoh. Satu Bangunan dijadikan café yaitu Vizie Café dan 2 bangunan dijadikan wisma untuk penginapan/

Lalu masuk ke jalan Serma Jamis disini ada SD Persit Kartika Candra Kirana, ada 3 ruang kelas dengan arsitektur Indies dengan dinding batu sungai di bagian bawah. Sekolah ini dahulunya adalah Hollandsche Chineesche Shool (HIS) dan menjadi lokasi pertama 4 biarawati dari Belanda mengajar sebelum mendirikan SD Santo Yosef. Kemudian belok ke kanan ke arah SMPN 2 Lahat dan di jalan ini masih berdiri kokoh satu bangunan kayu setengah panggung tepat berada di belakang rumah dinas Asisten Residen/Bupati. Dari sini lalu ke depan kantor Satlantas Polres Lahat yang dahulunya sebagai Kantor KNIL. Tepat di depan kantor Satlantas berdiri monument peringatan atas pertempuran yang terjadi pada tahun 1947 dimana 8 laskar pejuang Lahat gugur dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Selanjutnya belok kiri masuk ke jalan Letnan Amir Hamzah tepat di belakang SMAN 1 Lahat, sekarang merupakan bangunan masjid dahulunya rumah Ir.Sukardi yang pernah disinggahi oleh Bung Karno pada kunjungannya tahun 1952 ke Lahat dan Pagaralam. Empat rumah dari rumah Ir.Sukardi ada sebuah rumah beton berdinding putih dengan corak batu sungai berwarna hitam cirikhas Indies style. Rumah putih ini didiami oleh keluarga Bu Jana yang sebelumnya menjadi rumah persinggahan pertama kali 4 biarawati yang langsung datang dari Belanda untuk membangun sekolah Santo Yosef. Empat biarawati dengan menumpang kereta api dari stasiun Panjang di Lampung hingga stasiun Lahat.

Gerbang masuk asrama putri St.Yosef


Terus di jalan Letnan Amir Hamzah, di jalan ini ada beberapa rumah yang sangat bersejarah sejak lahirnya Kota Lahat maupun di masa perang kemerdekaan. Pertama adalah Kantor Asisten Residen Palembangsche Bovenladen yang selanjutnya menjadi Kantor Bupati hinggga tahun 1985 sebelum pindah ke Kantor Bupati yang saat ini berada di Kelurahan Bandar Jaya, akan tetapi sayangnya bangunan ini dirobohkan dan dibangun dengan bangunan baru yang sekarang menjadi Kantor Dinas Perpustakaan Daerah. Tepat di sebelah Kantor Asisten Residen Palembangsche Bovenladen adalah Rumah Dinas Asisten Residen yang kemudian menjadi Rumah Dinas Bupati dan sekarang menjadi rumah mantan Bupati Lahat (disebelah bangunan induk sekarang dibangun restoran bernama Rumah Baghi). Lalu 2 bangunan di sebelahnya dengan bangunan kayu bergaya Indies setengah panggung, satu bangunan menjadi wisma yang dapat disewa dan satunya menjadi resto Coffe & me, juga beberapa bangunan di komplek Zipur yang masih berdiri kokoh. Mayoritas bangunan bergaya Indies di kawasan ini dibangun pada awal terbentuknya pemerintahan Afdeling Palembangsche Bovenladen tahun 1869.

Kunjungan berikutnya di jalan Prof.Dr.Emil Salim, disini dahulunya merupakan pemakaman orang-orang Belanda yang dikenal dengan Kerkhof atau masyarakat Lahat menyebutnya Kuburan Belando. Sekitar tahun 1988 Kuburan Belando di bongkar dan dijadikan terminal kemudian sekarang menjadi komplek pertokoan. Sekitar 100 meter ada Bengkel Balai Yasa berikut Tower Air setinggi 40 meter yang masih berfungsi hingga kini. Komplek Balai Yasa ini yang terdiri dari bengkel, tower air, klinik, perumahan manager dan karyawan selesai dibangun tahun 1931 dan hingga kini semua bangunan tersebut masih berdiri kokoh. Terakhir Mario bersama Toti, Mahdi dan Nafel mengunjungi terowongan kereta api.

Pembangunan jalur kereta api dengan menembus hutan, menyeberangi sungai, membelah dan menembus bukit  dengan cara membuat terowongan. Pembuatan terowongan dinilai lebih baik daripada harus membuat jalur mendaki. Setelah selesainya jalur kereta api segmen Muara Enim–Lahat, yang diresmikan pada tangggal 21 April 1924 maka Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS) melanjutkan pembangunannya sampai ke Lubuklinggau. Hal ini sejalan dengan rencana pembangunan jalur kereta api Trans-Sumatra yang mempersatukan jalur kereta api Sumatra Barat, Sumatra Selatan, dan Sumatra Utara yang telah dibangun. Masterplan ini dibuat untuk menyongsong 50 tahun Staatsspoorwegen berkarya di Hindia Belanda.

Pembangunan jalur ini mempunyai beberapa kendala, salah satunya adalah medan jalur yang berbukit-bukit yang membuat insinyur Belanda menjadi kesulitan dalam menentukan trase yang cocok. Mereka pun menyiasatinya dengan membangun terowongan. Pada segmen Lahat–Tebing Tinggi, ZSS memutuskan membangun terowongan serta membangun stasiun-stasiun untuk mendukung operasi kereta api tersebut.

Willem Synja Tunnel atau Terowongan Gunung Gajah


Terowongan pertama dibangun di daerah Gunung Gajah Lahat. Terowongan ini diperkirakan selesai pada tahun 1928–1929. Dengan kendala-kendala semacam itu, maka pembangunan jalur kereta api ini menjadi lama.

Ada beberapa catatan yang cukup menarik mengenai terowongan ini. Diyakini, nama asli terowongan ini adalah Willem Synja Tunnel, Willem yang diyakini merupakan arsitek terowongan tersebut. Kemudian terowongan ini terkenal dengan nama Terowongan Gunung Gajah seperti tulisan yang tertera di depan terowongan. Penamaan Terowongan Gunung Gajah  berdasarkan lokasi terowongan yang berada di Kelurahan Gunung Gajah. Panjang terowongan Gunung Gajah sekitar 365 meter dan menjadikan terowongan ini terpanjang ke-10 se Indonesia. Terowongan ini masih berfungsi dengan baik hingga kini dan menjadi salah satu ikon heritage di Kota Lahat. (Lahat,Mario Andramartik,26/07/2021)

Minggu, 05 Desember 2021

SALAK NAN MENAWAN

Ketua Panoramic of Lahat Mario Andramartik di Air Terjun Salak


Keindahan alam dan budaya Kabupaten Lahat tak diragukan lagi dan telah banyak dipublikasi oleh banyak media apalagi di era millennial ini sangat gampang sekali mempublikasi suatu produk. Kabupaten Lahat yang telah mendapatkan rekor MURI sebagai pemilik situs megalitik terbanyak se Indonesia tahun 2012 sehingga mendapatkan julukan Negeri 1000 Megalitik. Dan ternyata Kabupaten Lahat juga memiliki air terjun terbanyak se Indonesia. Pada tahun 2016 Panoramic of Lahat telah mendaftarkan air terjun Kabupaten Lahat kepada MURI dan pihak MURI telah menyetujui maka Kabupaten Lahat dapat memakai julukan Bumi Seribu Air Terjun.

Dari data yang dikumpulkan oleh Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Panoramic of Lahat hingga kini Kabupaten Lahat telah memiliki 179 air terjun yang tersebar di 20 kecamatan dari total 24 kecamatan di Kabupaten Lahat atau 80% kecamatan di Kabupaten Lahat memiliki air terjun. Air terjun dalam bahasa Lahat disebut dengan cughup seperti tertera di kamus bahasa Seganti Setungguan, bukan curup, bukan curug dan bukan juga cughop. Banyak yang menyebut air terjun dengan curup, hal ini disebabkan karena susah atau tidak dapat menyebut kata cughup. Karena Curup merupakan ibukota Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Untuk kata curug merupakan  air terjun dalam bahasa Sunda. Sedangkan kata cughop merupakan sebutan untuk air terjun dalam bahasa di daerah Lintang Kabupaten Empat Lawang. Dalam bahasa Lahat tidak mengenal vocal o sehingga tidak tepat bila menyebut kata cughop. Kalau di daerah Lintang sering memakai vocal o.

Dari 179 cughup yang ada di Kabupaten Lahat mempunyai ketinggian dan keindahan yang berbeda dengan lokasi yang tersebar di banyak desa dan kecamatan. Kecamatan Gumay Ulu merupakan kecamatan yang memiliki cughup terbanyak yaitu 33 cughup, Mulak Ulu memilik 24 cughup , Pagar Gunung memilik 19 cughup dan Pulau Pinang memilik 16 cughup.

Wisatawan keluarga di air terjun Salak

Kecamatan Pulau Pinang yang terdiri dari 10 desa yaitu : Tanjung Mulak, Pulau Pinang, Lubuk Sepang, Tanjung Sirih, Perigi, Karang Dalam, Pagar Batu, Kuba, Jati dan Muara Siban. Kecamatan Pulau Pinang dengan kontur perbukitan dengan ketinggian berkisar 134 – 190 mdpl berada di sepanjang sungai Lematang dengan anak sungainya seperti Sungai Lim, Sungai Ketapang, Sungai Asam, Sungai Salak dan Sungai Mulak. Dari anak sungai Lematang inilah banyak ditemukan cughup. Saat ini cughup berada di 5 desa yaitu Desa Tanjung Mulak, Pulau Pinang, Lubuk Sepang, Perigi dan Karang Dalam. Dari ke-5 desa tersebut Desa Karang Dalam yang memiliki paling banyak cughup yaitu sebanyak 8 cughup.

Dari keindahan 16 cughup yang berada di Kecamatan Pulau Pinang pernah memikat TV nasional untuk melakukan syuting program TV mereka seperti Cughup Panjang di Desa Pulau Pinang dan Cughup Bidadari di Desa Karang Dalam pernah menjadi lokasi syuting film nasional di tahun 1980an juga Cughup Salak di Desa Perigi pernah dikunjungi penyanyi kondang Ari Lasso dan presenter terkenal Edwin serta banyak wisatawan yang berkunjung ke cughup ini melalui jalur sungai Lematang.

Cughup Salak sungguh sangat memikat siapapun yang melihat fotonya apalagi langsung ke lokasi cughup. Cughup Salak berada di Desa Perigi Kecamatan Pulau Pinang. Untuk menuju lokasi cughup dari Kota Lahat menuju Desa Lubuk Sepang yang berjarak 15 km atau 32 menit perjalanan dengan kendaraan roda empat. Setiba di Desa Lubuk Sepang melanjutkan perjalanan menyeberangi sungai Lematang dengan  melintasi jembatan gantung sepanjang sekitar 100 meter lalu belok ke kanan menyusuri jalan setapak sejauh 500 meter dengan melintasi kebun karet dan kopi. Sebelum sampai di cughup kita akan menikmati kesejukan alam sekitar dan meniti tepian sungai Salak yang berair jernih.

Selain jalur darat tersebut juga dapat melalui jalur sungai Lematang. Jalur ini pertama kali dibuka pada tahun 2012 yang dilakukan oleh komunitas atau pengiat arung jeram/rafting. Dan kemudian jalur ini menjadi jalur favorit para pencinta arung jeram yang datang dari berbagai pelosok kota di Sumatera Selatan untuk menikmati arus sungai Lematang dan keindahan Cughup Salak nan menawan. Pernah dalam sehari 100 orang mengarungi Sungai Lematang dan singgah untuk menikmati keindahan Cughup Salak. Para peserta rafting selain menikmati keindahan Cughup Salak juga akan merasakan kelezatan lemang khas Desa Tanjung Sirih. Lemang yang dibawa masih dalam keadaan utuh lalu dibuka setelah berenang ria di cughup dan hal ini merupakan sensasi tersendiri bagi para peserta rafting yang membedakan dengan lokasi rafting lainnya.

Wisatawan rafting dan singgah di air terjun Salak

Cughup Salak dengan ketinggian sekitar 15 meter dan terdapat sedikit undakan sehingga terlihat lebih indah dengan airnya yang jernih. Di bawah cughup ada lubuk yang tidak dalam sehingga aman dan nyaman untuk berenang serta di bagian hilir cughup sangat dangkal sehingga tidak akan terjadi terbawa arus sungai. Vegetasi di sekitar cughup merupakan kebun kopi dan karet juga banyak tumbuh tanaman amorphophalus mulleri atau krubut/kibut/bunga bangkai dikarenakan area mempunyai kelembaban yang cukup untuk tumbuhan tanaman tersebut. Dengan banyaknya pepohonan disekitar cughup sehingga lingkungan cughup sangat rindang, asri dan sejuk. Hal ini yang membuat cughup ini sering didatangi pengunjung.

Keindahan Cughup Salak telah memikat kami sekeluarga sehingga kami putuskan untuk melihat langsung cughup ini di tahun 2009. Kami bersama dengan anak kami yang baru berusia 4 tahun melintasi kontur jalan yang jarang kami lalui. Ketika menyeberangi jembatan gantung anak kami tidak mau di gendong alias mau jalan sendiri dan akhirnya satu sepatunya jatuh ke sungai. “Ayah …. sepatu Toti di ambil sungai” kata anakku ketika sepatunya terbawa arus Sungai Lematang. Pengalaman ini menjadi pengalaman berharga dan tak pernah menyurutkan kami untuk mengenal, melihat, merasakan keindahan alam tanah leluhur, tanah kelahiran tercinta. Kami sekeluarga dan Panoramic of Lahat terus berusaha mengunjungi setiap titik-titik informasi yang datang kepada kami dan kami sangat bersemangat untuk mengunjunginya walaupun sering kami harus berjalan kaki sangat jauh hingga perjalanan kaki 4 jam satu kali perjalanan yang membuat kami kelelahan.

Semoga keindahan Cughup Salak nan menawan ini terus dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan desa yang dapat membantu peningkatan perekonomian masyarakat desa dan pendapatan asli desa yang akan berdampak terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Lahat nantinya. Pengembangan dapat dimulai dengan pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Desa Perigi selanjutnya dengan pembangunan akses jalan yang memadai ke lokasi cughup dan pembangunan amenities di lokasi cughup seperti toilet, ruang ganti pakaian, gazebo, mushalla dan kios jualan. #ayokecughupsalak #ayowisatakelahat #lahatbercahaya. (Mario Andramartik, 9 Oktober 2021).