Bukit Serelo

Icon dari kota kecil Kabupaten Lahat yang kaya akan Sumber Daya Alam, Budaya dan Bahasa.

Megalith

Peninggalan sejarah yang banyak terdapat di Kabupaten Lahat.

Ayek Lematang

Aliran sungai yang terdapat di Kabupaten Lahat.

Air Terjun

Obyek keindahan alam yang terbanyak di Kabupaten Lahat.

Aktivitas Masyarakat Pedesaan

Kota Lahat yang subur kaya akan hasil perkebunan.

Senin, 18 Oktober 2021

MAHASISWA S3 PERANCIS PENELITIAN DI LAHAT

                       Tim Peneliti di Batu Tatahan Desa Air Puar

Peninggalan masa megalitik yang berada di Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan yang tersebar  hampir di seluruh kecamatan terus menjadi perhatian khususnya para peneliti. Penelitian sudah dilakukan sejak tahun 1849 dengan keluarnya jurnal penelitian hingga terbitnya buku-buku tentang megalitik yang ada di Kabupaten Lahat. Sebut saja jurnal penelitian atau laporan sejak tahun 1850 oleh L.Ullmann dalam artikelnya Hindoe belden in de bovenladen van Palembang, lalu tahun 1872 oleh E.P.Tombrink dalam tulisannya Hindoe Monumenten in de bovenladen van Palembang, kemudian Van der Hoop dalam bukunya Megalithic Remains in South Sumatera tahun 1932 selanjutnya tahun 1934 ada H.W.Vonk dengan tulisannya berjudul Batoe Tatahan bij Air Poear kemudian masih ada lagi C.W.Schuler, Frederic Martin Schnitger dengan bukunya berjudul The Forgotten Kingdoms in Sumatra, Von Heine Geldern, dan Van Heekeren.

Selanjutnya perhatian tentang budaya Pasemah mulai ditangani oleh para peneliti Indonesia, seperti R.P Soejono, Teguh Asmar dan Haris Sukendar. Peninggalan megalitik Pasemah menjadi bahan bahasan berbagai ahli baik dalam forum nasional maupun internasional. Dalam berbagai papernya R.P.Soejono berkali-kali menyebut adanya budaya leluhur bangsa di tanah Pasemah. Begitu juga dengan Teguh Asmar telah memilih bilik batu di Jarai Kabupaten Lahat sebagai topik makalahnya yang dibacakan dalam sebuah forum seminar yang diadakan di Kota Praha, Republik Ceko.

Pada tahun 1973, tim dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional bekerjasama dengan University of Pennsylavania Museum yang dipimpin oleh Dr.Bennet Kempers, mengadakan penelitian di situs-situs arkeologi di Sumatera Selatan, yaitu di situs Tanjung Aro telah menemukan sebaran dolmen dan arca manusia dibelit ular. Di Gunung Megang Kecamatan Jarai  menemukan beberapa tutup kubur batu yang berkamar yang disebutnya sebagai peti batu, yang telah dibuka oleh penduduk setempat pada tahun 1972 dan menemukan beberapa alat peruggu dan manik manik.

Pada tahun 1992 Tim Penelitian Situs Jarai dan Pagar Alam mengadakan penelitian Arkeologi Ekskavasi dan Survey Situs Jarai Kabupaten Lahat, tahap II. Tujuan penelitian untuk memperoleh data lukisan dari masa tradisi megalitik.

Pada Tahun 1993 penelitian bidang arkeometri juga melakukan kegiatan penelitian di situs Kota Raya Lembak untuk melihat jenis batuan yang menyusun Budaya Pasemah dan menyusun data geologi Daerah Kabupaten Lahat. Penelitian ini dipimpin oleh Fadlan S.Intan.

Balai Arkerologi Palembang mulai mengembangkan penelitian megalitik Pasemah sejak tahun 1996, dengan melakukan survey yang diketuai oleh Drs Budi Wiyana. Pada tahun 1998 melalui ekskavasi di situs Kunduran dan Muara Betung mulailah ditemukan adanya penguburan dengan tempayan kubur dan sampai sekarang penelitian tentang budaya megalitik Pasemah masih terus dilakukan.

Haris Sukendar telah mengembangkan penelitian megalitik di kawasan Pasemah. Pada salah satu bukunya Haris Sukendar pada tahun 2003 menyatakan bahwa Situs Tinggihari telah memiliki sistem organisasi sosial serta memiliki kepercayaan kepada arwah nenek moyang. Selain itu juga sudah mengenal domestikasi hewan, teknik pembuatan gerabah, teknik pemahatan, dan seni lukis.

Pada Tahun 2002 dan 2004 Balai Arkeologi Palembang di situs Muara Payang Kabupaten Lahat dengan melakukan penggalian dan survey dan ditemukan berbagai jenis pola penguburan dengan tempayan. Bagyo Prasetyo pada tahun 2007-2009 melakukan penelitian keruangan atas peninggalan megalitik Pasemah. Penelitian ini dilakukan di daerah Kabupaten Lahat maupun Kota Pagar Alam karena wilayah tersebut berada dalam satu kesatuan budaya. Situs-situs yang teridentifikasi ada 45 situs dengan 362 peninggalan megalitik. Dari sejumlah temuan tersebut dolmen menempati 30 situs dan arca megalitik terdapat di 28 situs.

Tahun 2010 penelitian di kawasan situs-situs megalitik di kawasan Kecamatan Pajar Bulan juga pernah diteliti oleh Balai Arkeologi Palembang, dengan melakukan survei dan ekskavasi di situs Kota Raya Lembak dan situs Pulau Panggung. Dari hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2010 telah ditemukan: Lumpang Batu berhias dan polos sebanyak 12 buah, Lesung Batu sebanyak 23 buah, Dolmen sebanyak 79 buah, Batu Datar jumlahnya 117 buah, Batu Berelief motif manusia : jumlahnya 1 buah. Arca megalitik ibu menggendong anak ada 1 buah. Tetralith jumlahnya 10 buah. Batu Temu Gelang jumlahnya 1 buah.

Tim di Situs Batu Tiang Desa Geramat

Tahun 2011 Balai Arkeologi Palembang
melanjutkan penelitian pemukiman tradisi megalitik di situs Kecamatan Jarai Kabupaten Lahat yang dipimpin oleh Kristantina Indriastuti,SS. Situs-situs yang menjadi target penelitian adalah Tanjung Menang, Jemaring, Gunung Kaya, Gunung Megang, Muara Tawi dan Pagar Dewa.

Menyikapi hasil-hasil penelitian dan laporan yang sudah ada beberapa aspek yang perlu digarisbawahi, bahwa secara umum penelitian tentang megalitik di situs-situs megalitik Pasemah lebih bersifat mikro dan cenderung menitikberatkan megalitik sebagai satu entitas bukan kepada sebaran dari benda-benda dan situs arkeologi serta hubungan antara benda dengan benda dan antara situs dengan situs.

Selanjutnya dilakukan penelitian tahun 2013 dengan melakukan survey di Dempo Utara. Tahun 2017, melakukan penggalian bilik batu di situs Tegurwangi. Tahun 2018 Penelitian yang membahas tentang tata ruang pemukiman megalitik di kawasan budaya Pasemah telah dilakukan di situs Tanjung Aro Kota Pagaralam. Hasil penelitian serupa ini selanjutnya diterapkan untuk tahun 2019 dengan jangkauan lokasi yang lebih luas yaitu dengan mengadakan penelitian di situs-situs wilayah kecamatan Pajar Bulan, Kabupaten Lahat.

 

Di tahun 2019 Balai Arkeologi Sumatera Selatan melakukan penelitian tata ruang pemukiman megalitikdi situs-situs arkeologi Kecamatan Pajar Bulan Kabupaten Lahat yang dipimpin oleh Kristantina Indriastuti,SS. Adapun desa-desa yang menjadi obyek penelitian adalah desa Kota Raya Lembak, Pajar Bulan, Sumur, Talang Pagar Agung, Benua Raja, Talang Padang Tinggi dan Pulau Panggung. Dari hasil penelitian ini memperoleh data tentang adanya sebaran megalitik serta tempat upacaranya sekitar halaman yang berderet memanjang yang terletak di bagian tengah dan di deretan belakang hunian permukiman mereka. Di halaman terdiri dari  berbagai sarana seperti arca megalitik, dolmen, batu datar, batu tetralith, bilik batu, batu gelang, batu berelief, sedangkan batu lesung dan batu lumpang terletak agak di sisi luar dari sebaran megalitik yang lainnya.

 

Tahun 2021 tepatnya di awal bulan Oktober juga dilakukan penelitian oleh tim dari Pusat Arkeologi Nasional yang dipimpin oleh Harry Octavianus Sofian,S.S,M.Sc seorang arkeolog lulusan S2 di Museum National d'Histoire Naturelle (MNHN) Paris tahun 2015 dan sekarang sedang menjadi  mahasiswa candidat Doktor di Paris Nanterre University. Fokus penelitian saat ini di peninggalan megalitik yang ada di Kabupaten Lahat adalah focus pada logam kuno  dan perdagangan. Dengan lokasi yang di kunjungi yaitu Situs Tinggi Hari IV di Desa Tinggi Hari, Situs Muara Dua dan  Situs Batu Tigas di Kecamatan Gumay Ulu, Situs Batu Tatahan di Desa Air Puar, Situs Batu Kerbau dan Batu Tiang di Desa Geramat Kecamatan Mulak Ulu. Juga 2 situs megalitik di Kota Pagaralam yaitu Situs Belumai dan Tegur Wangi.

 

Tim di Situs Batu Kerbau Desa Geramat

Seperti yang telah diketahui bahwa pada arca-arca megalitik Pasemah yang berada di Kabupaten Lahat dan Kota Pagarlam merupakan hasil pahatan dalam bentuk tokoh manusia atau binatang atau keduanya. Arca megalitik di Pasemah mempunyai ciri khas yang tidak ditemukan pada arca megalitik yang lain di Indonesia bahkan di dunia. Arca megalitik terdiri dari arca manusia dalam bentuk utuh, yaitu dipahatkan dengan susunan anatomi lengkap yang terdiri dari kepala, leher, badan, tangan, kaki dan bagian lainnya serta perhiasan seperti kalung, gelang, topi, nekara dan pedang. Ada arca yang menggambarkan binatang seperti harimau, kerbau, babi dan gajah. Juga ada arca yang menggambarkan bentuk manusia bersama binatang seperti arca manusia menggapit kerbau, arca manusia menunggang gajah dan arca manusia di cengkeram harimau. Manusia prasejarah yang berkembang di Kabupaten Lahat telah mengenal peradaban seperti aksesori anting, kalung, gelang tangan, gelang kaki, topi, baju, jubah, pedang, nekara dan alat pertanian.


Kedatangan tim yang dipimpin oleh
Harry Octavianus Sofian,S.S,M.Sc lebih focus pada aksesori berbahan logam yang dipakai oleh tokoh pada arca-arca megalitik Pasemah. Penelitian ini juga didampingi oleh Wahyu Rizky Andhifani,S.S,M.M, Riri Fahlen S.Sos, Bambang Aprianto, SH,M.M, Mario Andramartik dan Taufik Hidayat.

Semoga kelak hasil penelitian akan bermanfaat untuk pengembangan daya tarik wisata budaya menjadi destinasi wisata budaya yang akan memberikan manfaat kepada masyarakat, pemerintah dan semua komponen di Kabupaten Lahat menuju Kabupaten Lahat Bercahaya. (Mario Andramartik, 02 Oktober 2021).

Kamis, 07 Oktober 2021

BATU TIANG DI KEBUN KOPI

Jupel Situs Batu Tiang Taufik bersama tim peneliti


Waktu sudah menunjukkan pukul 12.15 wib sudah waktunya untuk istirahat dan makan siang tetapi kami tidak melakukan hal itu. Kami terus menelusuri jalan ke kebun kopi dengan berjalan kaki. Sang Juru Pelihara atau Jupel yang bernama Taufik Hidayat dan dipanggil Taufik berada di depan kami dengan mengendarai sepeda motor dan berboncengan dengan Indra. Hari dan Wahyu dengan mobil mereka yang dibawa dari Jakarta sedang aku dengan Bambang di mobil satunya.

Setelah menelusuri jalan desa yang telah di cor beton sejauh lebih kurang 800 meter lalu mobil kami berhenti dan parkir kemudian kami berjalan menyusuri jalan tanah dengan kebun kopi di kiri dan kanan. Perjalanan berjalan kaki kami tempuh sejauh 600 meter dan akhirnya kami tiba di kebun kopi milik Taufik. Kami langsung di ajak ke pondok milik Taufik. Kami berteduh di dalam pondok menghindar dari teriknya matahari, Taufik langsung sibuk untuk menyiapkan minuman kopi, katanya kopi luwak asli dari kebun kopi miliknya.

Ketika Taufik sedang menyiapkan air panas untuk kopi luwak dan kawan-kawanku lainnya duduk santai sembari bercerita, aku seorang diri keliling kebun kopi. Aku tak sabar untuk melihat kembali batu-batu pahatan leluhur masa prasejarah yang bertebaran di kebun kopi ini. Aku sudah pernah kesini tahun 2013, kala itu aku bersama kawan-kawan yang tergabung di Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Panoramic of Lahat dipandu oleh sang Kades kala itu Mahmud. Kondisi saat itu masih belum ada pemeliharaan dan belum ada juru pelihara sehingga keadaanya tidak terawat.

Tetralith di Situs Batu Tiang
Aku sudah keliling kebun kopi, melihat dan memotret  1 lumpang batu lubang 4 dengan pelipit/pembatas pada setiap lubang, ukuran diameter ke-4 lubang nyaris sama sekitar 15 cm dengan panjang lumpang batu 180 cm dan lebar 97 cm. Terlihat jelas lumpang batu ini sangat bersih, terpelihara dan jauh berbeda dengan keadaan ketika pertama kali aku kesini. Di sekitar lumpang batu tak ada tumbuh sebatang rumput, di sekitar lumpang sangat bersih dan bebas dari rerumputan, jamur dan lainnya. Kemudian aku terus berjalan melihat deretan batu tegak memanjang. Batu Tegak membentuk 4 bujur sangkar dan berderet lurus seperti benteng mungkin karena batu-batu ini area atau ataran ini disebut dengan Batu Tiang. Empat batu tegak yang membentuk bujur sangkar ini sering disebut dengan Tetralit yang berasal dari bahasa Yunani, Tetra berarti 4 dan lith berarti batu. Jadi Tetralit berarti batu susun empat. Aku melihat ada 4 tetralit berjajar lurus sehingga ada total 16 batu tegak yang berderet lurus yang terbagi menjadi 2 barisan masing-masing 8 batu tegak yang berada di dalam kebun kopi.

Ketika aku akan melanjutkan untuk melihat batuan lainnya dari pondok Wahyu memanggil aku untuk kembali ke pondok dan menikmati kopi luwak racikan Taufik. Dan akupun kembali ke pondok menerobos ranting-ranting pondok kopi robusta yang tumbuh subur di kawasan Desa Geramat Kecamatan Mulak Ulu. Dari kawasan ini kita akan melihat hamparan hijau kebun kopi dan gugusan Bukit Barisan.

Kunjungan aku ke Batu Tiang yang merupakan situs megalitik kali ini adalah mendampingi tim penelitian yang dipimpin oleh Harry Octavianus Sofian,S.S,M.Sc seorang arkeolog lulusan S2 di Museum National d'Histoire Naturelle (MNHN) Paris tahun 2015 dan sekarang sedang menjadi  mahasiswa candidat Doktor di Paris Nanterre University. Fokus penelitian saat ini di peninggalan megalitik yang ada di Kabupaten Lahat adalah focus pada logam kuno  dan perdagangan. Selain Situs Batu Tiang juga mengunjungi situs-situs lainya di Kabupaten lahat yaitu Situs Tinggi Hari IV di Desa Tinggi Hari, Situs Muara Dua dan  Situs Batu Tigas di Kecamatan Gumay Ulu, Situs Batu Tatahan di Desa Air Puar, Situs Batu Kerbau di Desa Geramat Kecamatan Mulak Ulu. Juga 2 situs megalitik di Kota Pagaralam yaitu Situs Belumai dan Tegur Wangi. Penelitian ini juga didampingi oleh Wahyu Rizky Andhifani,S.S,M.M, Riri Fahlen S.Sos dan Bambang Aprianto, SH,M.M.


Waktu telah menunjukkan pukul 14.15 kami sudah selesai minum kopi luwak yang nikmat nian karena di minum di pondok di kebun kopi yang alami, asri, damai, tentram tanpa hirik pikuk dan polusinya udara kota. Kami melanjutkan kegiatan sesuai dengan rencana kedatangan ke situs Batu Tiang. Hari, Wahyu dan Indra pergi ke arah arca manusia. Arca ini menggambarkan seorang figure manusia menunggang seekor hewan seperti kerbau tetapi bagian kepala telah lepas dan kemudian ditemukan oleh Taufik kepala arca berada sekitar 2 meter di depan arca yang sebelumnya terkubur tanah. Hari dan Indra terus mengamati setiap sudut arca dan mendokumentasi dengan foto dan video. Aku dengan Riri, Bambang dan Taufik pergi ke arah dimana ditemukan 2 lumpang baru oleh Taufik. Lumpang batu pertama yang ditunjukkan oleh Taufik adalah lumpang batu berbentuk bulat dengan ukuran diameter lumpang 50 cm sedang diameter dalam lumpang 36 cm lalu di bagian tengah terdapat lubang dengan diameter 13 cm. Lumpang batu berwarna keputihan ini memiliki tinggi sekitar 6 cm. Lokasi penemuan lumpang sekitar 100 meter dari pondok di lahan yang lebih rendah. Selanjutnya Taufik membawa kami ke lumpang kedua yang berjarak sekitar 50 meter dari lumpang pertama yang kami datangi. Lumpang ini berbahan berbeda dari lumpang sebelumnya dengan warna batu hitam dan ukuran lebih besar sedikit, lumpang kedua ini berukuran 60 x 60 cm dengan lubang 39 cm dan tinggi lumpang 17 cm. Selain pohon kopi di area lumpang ini juga banyak pohon durian, jadi the best time berkunjung ke situs megalitik Batu Tiang adalah di musim durian. Dan tak begitu jauh dari situs Batu Tiang juga ada 2 air terjun yaitu air terjun jernih dan air terjun deghian badas. Kedua air terjun sangat indah selain bentuknya yang bertingkat juga berair jernih dan rimbunnya pepohonan di sekitar air terjun.

Di situs megalitik Batu Tiang ini secara keseluruhan saat ini telah ditemukan 26 tinggalan benda megalitik yang terdiri dari 1 arca manusia, 4 batu datar, 9 lumpang batu dan 12 tetralith. Akan tetapi melihat banyaknya onggokan batu-batu di kebun kopi ini bisa jadi masih ada benda megalitik lainnya karena sebelumnya Taufik menemukan kepala arca dan lumpang batu juga secara tidak sengaja ketika sedang meggali lubang untuk menanam bibit kopi.

Di Desa Geramat Kecamatan Mulak Ulu yang berjarak sekitar 48 km dari pusat Kota Lahat menyimpan banyak daya tarik wisata. Dari data yang dihimpun oleh Panoramic of Lahat tercatat ada 2 situs megalitik yaitu Situs Megalitik Batu Tiang dan Batu Kerbau, 2 air terjun yaitu Air Terjun Jernih dan Air Terjun Deghian Badas, 9 Ghumah Baghi yang telah berusia ratusan tahun (saat ini hanya Desa Geramat yang masih memiliki rumah adat paling banyak di Kecamatan Mulak Ulu), tebat, persawahan dan perkebunan yang semua daya tarik tersebut dapat dijadikan dan dikemas menjadi destinasi wisata.

Semoga kelak nanti ada upaya dari masyarakat desa atau pihak lain yang dapat mengembangkan daya tarik ini sehingga dapat menciptakan ekonomi baru yang akan berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat desa dan pendapatan asli desa. (Mario Andramartik, Geramat, 02 Oktober 2021)

Sabtu, 02 Oktober 2021

BANDAR DI KAKI DEMPO



Di awal September nan ceria kami awali dengan wisata ke desa yang belum pernah dikunjungi sebelumnya oleh keluargaku walaupun desa ini masih dalam wilayah Kabupaten Lahat. Di pagi nan cerah istriku sudah menyiapkan sarapan untuk kami makan sebelum berangkat juga menyiapkan bekal dalam perjalanan dan juga makan siang. Sengaja kami bawa sendiri makan siang dari rumah karena kami akan makan di alam terbuka dengan menggelar alas yang juga sudah kami siapkan. Aku juga menyiapkan kamera, tripot kamera dan perlengkapan dokumentasi lainnya. Kami akan berangkat sekitar pukul 08.00 wib sehingga kami tiba di lokasi pertama, menikmati suasana alam lalu makan siang dan melanjutkan ke lokasi berikutnya.

Setelah semua siap kamipun berangkat menuju lokasi pertama. Aku selalu menjadi pengemudi bagi keluargaku. Kali ini selain istri dan anak-anaku, aku juga membawa ibu dan keponakanku yang saat ini duduk di kelas 3 SD nama Aika. Kami berangkat lebih awal dan kemudian saudara sepupu istriku beserta keluarganya menyusul mengikuti perjalanan kami.

Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam tibalah kami di lokasi pertama yang kami inginkan yaitu destinasi wisata Ayik Pacar yang baru seminggu lalu dibuka dan diresmikan oleh Bupati Lahat Cik Ujang,SH. Rupanya destinasi wisata yang baru diresmikan ini mampu menyedot wisatawan, terlihat baru seminggu diresmikan lokasi ini telah dipadati oleh wisatawan yang datang dari berbagai kota di Sumatera Selatan dan juga terpantau wisatawan dari Propinsi Bengkulu. Parkir yang telah disiapkan oleh penggelola nyaris penuh dengan kendaraan roda empat. Tidak salah bila destinasi wisata ini dibuka karena memang mampu menarik wisatawan.

Air nan jernih yang langsung keluar dari dalam bumi dan tak pernah berhenti ini yang menjadi daya tarik wisatawan kemudian air mengalir dan ditampung menjadi kolam yang dapat digunakan untuk berenang. Terlihat dari anak-anak hingga orang dewasa berenang di kolam air jernih dan dingin ini termasuk juga keponakanku dan anak sepupu istriku turun ke air dan berenang sedangkan kami hanya menikmati suasana. Selain kejernihan air juga berbagai bunga dengan daun warna warni, kebun kopi dan pemandangan indah Pegunungan Gumay di Bagian Utara dan Gunung Dempo di Bagian Selatan. Jadi selama berada di Ayik Pacar suasana sangat nyawan dan betah apalagi untuk anak-anak. Lokasi ini sangat rekomendasi untuk liburan bersama keluarga baik anak-anak maupun orang dewasa hingga lansia.

Setelah memasuki waktu makan siang kamipun makan bersama dibawah pondok yang telah disiapkan oleh penggelola. Kami membawa makan siang dari rumah karena lokasi ini hanya menyiapkan makanan berupa popmie dan belum ada menu makan siang yang memadai. Kami dengan lahap menyantap makanan yang sudah disiapkan dan tanpa menyisahkan.

Kemudian setelah makan siang kami berkemas dan berangkat ke lokasi kedua yang berjarak sekitar 9 km. Kami langsung menuju lokasi yang telah ditentukan dan setiba di lokasi di halaman rumah Kepala Desa yang sudah di rehap menjadi posko PPKM kami diterima. Kami sekeluarga yang berjumlah 11 orang disambut  oleh perangkat desa, pengurus pokdarwis dan karang taruna. Kami dipersilahkan duduk, minum dan makan snack. Suatu sambutan yang hangat dan ramah dari masyarakat desa ini dan ini merupakan ciri khas masyarakat Suku Besemah Kabupaten Lahat yang sangat hangat dan ramah menerima para tamu atau pendatang. Aku pribadi sangat sering mendapat perlakuan sangat baik dari masyarakat disini misalnya hanya bertanya tempat atau orang saja kita sudah ditawarin untuk singgah dulu dan minum kopi.

Lima belas menit kemudian kami mulai bergerak untuk melihat lebih dekat keadaan desa ini. Dari cerita awal yang kami dapat di desa ini ada peninggalan megalit tetapi beberapa bulan lalu sudah aku datangi, ada juga air terjun, kebun salak organik, kebun jeruk manis, kebun pepaya, kebun pala, kebun kopi, kebun durian, kebun lada, kolam ikan dan pembibitan ikan. Akhirnya kami bagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok pertama ke air terjun dengan aku dan beberapa perangkat desa dan pokdarwis, kelompok kedua ke beberapa kebun.

Aku bersama Ketua Pokdarwis Sehati Jhony Hidayat beserta anggota Fitri dan Hendri, perangkat desa  Irwan, Mukmin, Kandar dan Indra pergi untuk melihat air terjun atau cughup Gaung yang berjarak sekitar 6 km dari desa dengan menumpangi mobil bak terbuka dan 2 sepeda motor sedangkan istiku dan lainnya yang didampingi oleh pengurus pokdarwis Susi, Wiwik, Ica, Hery dan Rehan melihat kebun salak organik dan kebun-kebun lainnya.


Dari desa masuk ke jalan menuju ke arah cughup Gaung yang berada di bagian Utara Gunung Dempo melalui desa Penantian karena jalan melali desa ini masih dalam perbaikan. Awalnya jalan berupa jalan cor beton tetapi kemudia masuk jalan berupa jalan tanah dan sepit yang hanya cukup untuk satu mobil ditambah kiri dan kanan jalan yang dipenuhi semak belukar berupa ilalang. Dari desa menuju Cughup Gaung melalui beberapa talang yaitu Talang Tinggihari, Talang Pramuka, Talang Jini Kuni dan Talang Martige. Mobil kami parkir di Talang Martige dan melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor yang sudah didesign khusus untuk menembus jalan mendaki di sela-sela pohon kopi. Jarak tempuh dari Talang martige menuju Cughup Gaung sekitar 1 km dengan kontur jalan sedikit menanjak menerobos lebatnya kebun kopi lalu setelah melewati kebun kopi masuk ke area kawasan cughup yang masih terjaga vegetasinya, terlihat pohon besar yang melintang di jalan yang harus kami loncatan atau kami harus merunduk dibawah pohon besar. Kontur jalan menurun selama 15 menit dan keindahan Cughup Gaung dapat kita nikmati.

Cughup Gaung dengan tinggi sekitar 70 meter dengan air jatuh lurus ke bawah sehingga membentuk danau kecil dibagian bawah dengan air nan jernih kebiruan dan terus mengalir membentuk aliran sungai. Tepat di atas Cughup Gaung adalah Waterblue yang sudah jadi trending topic selama ini. Jadi wisatawan yang datang kesini dalam satu kali perjalanan dapat menikmati sekaligus keindahan Waterblue dan Cughup Gaung.

Setelah puas menikmati keindahan Cughup Gaung, berfoto ria dan mengambil beberapa video kami kembali ke Talang Martige. Perjalanan kembali lebih cepat 15 menit daripada berangkat karena jalanan menurun. Setiba di Talang Martani aku membasuh muka dari air pancuran yang mengalir deras, terasa segar sekali. Kami disuguhi air minum dan pisang oleh warga Talang Martige. Pemandangan dari Talang Martige tak kalah indahnya, dari sini terlihat dengan jelas Gunung Dempo dari sisi bagian Utara.

Kami melanjutkan perjalanan melihat kebun salak organik. Sudah sejak beberapa tahun terakhir masyarakat Desa Bandar Aji mengembangkan perkebunan salak organik kemungkinan ini yang pertama di Kabupaten Lahat. Salak disini siap panen setiap minggu. Perkebunan salak ini dapat dijadikan destinasi wisata edukasi dan agrowisata.

Dari kebun salak aku bersama tim dari Desa Bandar Aji langsung kembali ke rumah Kepala Desa Bandar Aji yang saat ini dipimpin oleh Raice Antines. Di rumah Kades sudah kumpul istriku dan keluarga. Mereka lebih awal kembali ke desa dengan membawa sejuta kenangan berwisata ke kebun salak, kebun jeruk, kebun pala dan kebun pepaya. Anggota pokdarwis yang memandu ke kebun juga memberikan edukasi tentang tanaman dan buah yang ditanam di Desa Bandar Aji. Kebun pepaya  di desa ini hampir sama luas dengan kebun kopi dan produksi pepaya Desa Bandar Aji telah dipasarkan ke Palembang hingga pulau Jawa. Selain perkebunan Desa Bandar Aji juga mengembangkan perikanan. Jadi daya tarik wisata desa ini sangat lengkap ada situs megalit, air terjun, perkebunan buah, sayur, sawah dan perikanan. Semua ini dapat dijadikan destinasi wisata yang dapat mendatangkan banyak wisatawan.

Di kaki Gunung Dempo yang merupakan gunung tertinggi kedua di pulau Sumatera terdapat beberapa cughup yang berada di ketinggian sekitar 1.000 mdpl di wilayah Kecamatan Sukamerindu, Jarai dan Muara Payang. Salah satu cughup tersebut adalah Cughup Gaung yang secara administrasi berada di Desa Muara Jauh Kecamatan Muara Payang akan tetapi untuk menuju ke lokasi jarak tempuh terdekat dari Desa Bandar Aji Kecamatan Jarai sehingga terkesan Cughup Gaung berada di Desa Bandar Aji.


Desa Bandar Aji berada tepat dikaki bagian Utara Gunung Dempo yang sangat subur sehingga disini banyak ditemukan perkebunan buah dan sayur. Kawasan ini telah dihuni masyarakat masa prasejarah, hal ini dibuktikan dengan banyaknya temuan peninggalan masa megalit berupa lumpang batu, dolmen, lesung, menhir, tetralit dan batu datar. Di lihat dari temuan yang ada dapat diperkirakan kawasan ini dihuni masyarakat prasejarah masa kedua megalit yaitu masa bercocok tanam.

Dengan semangat masyarakat desa untuk mengembangkan potensi desa berupa daya tarik wisata menjadi destinasi wisata yang didorong dan didukung oleh Kepala Desa dan seluruh komponen desa  insyaAllah segera terwujud. Sudah banyak desa di Indonesia yang mampu mengembangkan potensi desa menjadi destinasi wisata yang meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa seperti Desa Sekapuk di Kabupaten Gresik Propinsi Jawa Timur dengan menjadikan bekas galian tambang pasir menjadi destinasi wisata yang mampu memperkerjakan 700 warga desa dengan meraih omset pertahun pada tahun 2020 sebesar Rp.11 milyar lebih dengan keuntungan Rp.4,5 milyar. Dengan Pendapatan Asli Desa yang terus meningkat sejak tahun 2018 maka Desa Sekapuk menyiapkan fasilitas kendaraan dinas aparat desa berupa mobil Toyota Alpard untuk Kepala Desa, Xpander untuk Bumdes, Grand Livina untuk PKK, Mazda Double Cabin untuk wisata dan mobil ambulance. Semoga nantikan bakal muncul desa-desa di Kabupaten Lahat yang meraih sukses menjadi desa milyarder seperti desa lainnya. 

Kamis, 02 September 2021

TANJUNG BULAN SI MOLEK DARI BUKIT BARISAN


Pada setiap tahun di bulan Agustus semarak memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia menggelorakan di seluruh pelosok negeri hingga perwakilan masyarakat Indonesia di seluruh dunia. Ada yang mengadakan upacara di lapangan terbuka, ada yang upacara di halaman kantor atau sekolah, ada juga yang mengadakan upacara di laut, di atas bukit atau gunung. Setiap rumah mengibarkan bendera merah putih dan umbul-umbul sehingga setiap jalan, dari jalan protokol hingga jalan desa dan gang-gang penuh semarak dengan perayaan hari kemerdekaan. Selain itu juga digelar perayaan  meriah dengan menggelar karnaval, konser musik dan kegembiraan lainnya.

Kali ini dimana masih dalam suasana pandemi tidak menyurutkan setiap insan Indonesia untuk merayaakan Hari Kemerderkaan Republik Indonesia walaupun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Panoramic of Lahat tidak ketinggalan dalam memeriahkan hari kemerderkaan dengan semangat untuk mengenal dan melestarikan kebudayaan dan kekayaan bumi pertiwi Indonesia dengan tetap menggelorakan semangat perjuangan pendiri bangsa untuk meneruskan perjuangan dengan mengisi kemerdekaan.

Di hari Sabtu pagi yang mendung tiga orang anggota Panoramic of Lahat Mario, Bayu dan Bambang menuju desa Tanjung Bulan kecamatan Kota Agung.  Setelah tiba di desa Tanjung Bulan tim diterima oleh Kades Tanjung Bulan Hamidi beserta perangkat desa Jonsen Ketua BPD, Edwin Kasie Pembangunan, Wawan Kadus II dan perangkat lainnya Endri, Riky serta Yeen Gustiance Penggiat Budaya. Seperti kebiasaan masyarakat Kabupaten Lahat pada umumnya yang selalu menyambut ramah para pendatang yang berkunjung dengan menyuguhkan kopi dengan gelas bukan dengan cup atau cangkir dan beberapa makanan kecil. Hal ini bahkan sudah menjadi tradisi masyarakat yang tetap terjaga dan lestari hingga kini. Kamipun disambut dan disajikan hal yang sama.

Setelah kami menyampaikan maksud dan tujuan kami berangkat dari rumah kepala desa menuju arah Selatan desa atau ke arah Bukit Barisan yang terlihat berjajar berwarna hijau membentang panjang. Kami berboncengan sepeda motor menyusuri jalan setapak yang telah di cor beton sejauh 1,5 km melintasi persawahan dan perkebunan kopi dengan kontur jalan sedikit menanjak tetapi tak ada tanjakan yang terjal dan ektrim. Kemudian kami melintasi jalan setapak yang masih berupa jalan tanah sejauh sekitar 400 meter dan tibalah di pondok Iwan. Disini kami parkir motor dan melanjutkan berjalan kaki dengan menyusuri kebun kopi. Kami berjalan di sela-sela pohon kopi dengan kontur jalan menanjak menuju air terjun atau cughup sejauh 200 meter.

Endri sang pemilik kebun kopi dimana terdapat 2 air terjun menjadi pemandu perjalanan kami ke air terjun. Endri membawa kami menuju Cughup Tebat Juring dengan menyusuri kebun kopi miliknya. Kami berjalan di sela-sela pohon kopi dengan hati-hati karena kami berada di lereng bukit. Cuaca sedikit mendung dan tidak panas ditambah sejuknya udara di kawasan ini sehingga perjalanan hari ini sangat menyenangkan. Cughup Tebat Juring dengan tinggi sekitar 25 meter berada di ketinggian 1.130 mdpl di kawasan Lawang Juring. Cughup ini masih natural, belum di explore dan di expose. Beberapa perangkat desa dan masyarakat Desa Tanjung Bulan bahkan belum pernah datang dan melihat langsung ke cughup ini. Di area cughup masih sangat rindang dengan pohon-pohon seperti pohon kunyit, serian, pasang pelemai, cemare udang, lasi, puar, paku simpai dan pacar air dengan bunga berwarna kuning yang tumbuh di dinding air terjun dan menambah keindahan cughup yang berair jernih. Di area inipun masih hidup berbagai jenis hewan seperti biawak, monyet, beruk, simpai, babi, landak dan ular. Dari Cughup Tebat Juring dapat melihat persawahan dan perkampungan desa Tanjung Bulan. Kami duduk disini menikmati keindahan air terjun, hambaran perkebunan dan persawahan sembari menikmati makanan kecil dan melepas dahaga.

Di bawah Cughup Tebat Juring sejauh 50 meter terdapat sebuah cughup yang disebut Cughup Anak dengan tinggi sekitar 5 meter di ketinggian 999 mdpl. Di seputaran cughup ini sudah ditanami dengan pohon kopi. Melihat Cughup Anak teringat dengan Teladas Barun di desa Pulau Panas kecamatan Tanjung Sakti Pumi, cughup yang pendek berair jernih yang dikelola dengan baik sehingga maju berkembang menjadi destinasi wisata.

Perjalanan balek ke pondok Iwan dari Cughup Tebat Juring dengan melintasi Cughup Anak terasa lebih pendek dan lebih mudah dari pada perjalanan pergi. Menurut cerita dari perangkat desa yang ikut dalam perjalanan ini, masih ada satu lagi cughup yang berada di atas Cughup Tebat Juring berada sekitar 500 meter yang disebut dengan Cughup Batu Pancung. Jadi di kawasan Lawang Juring ini ada 3 cughup yang merupakan daya tarik wisata desa Tanjung Bulan.


Selanjutnya dari Pondok Iwan kami bergerak ke bawah menuju Ataran Sawah Tinggi dengan menelusuri perkebunan kopi sejauh sekitar 1 km ke arah utara. Setiba di Ataran Sawah Tinggi yang berada di ketinggian 736 mdpl terlihat hamparan sawah  dan 2 pondok. Sepeda motor kami parkir tak jauh dari pondok dan kami berjalan sekitar 10 meter terlihat sebuah batu dengan lubang dengan kedalaman sekitar 5 cm yang berisi air.  Masyarakat desa menyebutnya sebagai Batu Itik karena selama ini batu berbentuk oval dengan lubang diatasnya ini dimanfaatkan warga sebagai tempat itik makan dan minum. Dari Batu Itik kami terus ke arah sawah sejauh 20 meter, disini ada sebongkah batu yang ditopang beberapa batu dengan lubang berdiameter 15 cm di bagian atasnya. Batu yang berada di sawah milik Angga ini disebut masyarakat sebagai Batu Beghuk atau Beruk. Masyarakat melihat batu ini seperti muka seekor binatang beghuk atau beruk. Setelah kami amati ternyata batu ini merupakan sebuah lumpang batu berlubang 3 seperti yang pernah kami lihat di beberapa situs megalit yang tersebar di Kabupaten Lahat. Pada bagian tepi lubang ada juga bagian pelipit atau pembatas. Kami berkesimpulan bahwa kedua batu yang kami lihat merupakan tinggalan masa megalit. Maka situs megalit Batu Beghuk atau lumpang batu ini merupakan situs megalit ke-62 yang ada di Kabupaten Lahat dan makin mengukuhkan Kabupaten Lahat sebagai Negeri 1.000 Megalit.


Dari Situs Megalit Batu Beghuk kami menuju Tebat Bukit dan untuk menuju Tebat Bukit kami harus kembali ke desa dan terus mengarah ke tebat yang berjarak sekitar 1 km dari desa dengan menyusuri jalan setapak yang telah di cor beton sehingga perjalanan ke tebat sangat cepat dan mudah. Dari lokasi kami parkir sudah terlihat Tebat Bukit dan berjalan sedikit turun sejauh 10 meter sudah tiba di tepi tebat. Tebat Bukit berada di ketinggian sekitar 781 mdpl dengan luas sekitar 2 ha dan kedalaman hingga 5 meter. Saat ini tepian tebat ditumbuhi beberapa tanaman sehingga hanya bagian kecil tebat yang terlihat ada airnya. Sebelumnya beberapa tahun lalu seluruh permukaan tebat bebas dari tumbuhan dan penuh ditutupi air. Kala itu masyarakat setiap minggu mengadakan gotong royong membersihkan tebat sehingga seluruh bagian tebat dapat dijangkau dengan menggunakan rakit atau perahu, banyak masyarakat yang datang untuk mancing atau sekedar untuk refreshing. Saat kami berada di area tebat terlihat ada yang mancing di tengah tebat dengan menggunakan rakit karena di tebat ini masih ada berbagai jenis ikan seperti gabus, emas, mujaer, pirik, bilis, braskap, palau, kalang, belut dan labi. Sebelumnya juga banyak liling (sejenis keong). Dan liling Tebat Bukit sangat digemari masyarakat akan tetapi sekarang sudah langka. Tak lupa kami berfoto bersama untuk mengabadikan keberadaan kami disini sebelum kembali ke desa.

Tak terasa selama 5 jam lebih kami keliling melihat daya tarik wisata dan budaya desa Tanjung Bulan kemudian kami kembali ke desa. Kami menyantap hidangan makan siang yang telah disiapkan oleh Kades Tanjung Bulan dan kami juga disajikan segelas kopi sambil bercerita tentang daya tarik yang melimpah di desa Tanjung Bulan.

Setelah melihat secara keseluruhan dan menelusuri perjalanan sejak dari desa hingga cughup, situs megalit dan tebat juga potensi perkebunan kopi, durian, sawah, kolam ikan, rumah dan keramahan penduduk maka kemolekan desa Tanjung Bulan sangat layak untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata yang akan berdampak positif terhadap kemajuan desa secara keseluruhan. Pertama dapat dibentuk pokdarwis atau kelompok sadar wisata yang akan menjadi pengelola dan pengembang daya tarik wisata yang didukung oleh komponen desa seperti Kepala Desa beserta perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, ibu-ibu PKK desa dan seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun desa. Selanjutnya dibentuk juga unit usaha perbuatan makanan ringan, souvenir, perikanan, peternakan dan berbagai fasilitas wisatawan yang berkunjung ke air terjun, tebat dan situs megalit. Dan tak ayal bila kelak kemolekan Tanjung Bulan akan tersohor hinga seantero Sumatera Selatan dan Indonesia.(Mario Andramartik, 22 Agustus 2021).

Senin, 26 Juli 2021

BUKIT BESAK – KAB.LAHAT



Di bagian Selatan Kota Lahat terlihat dengan jelas jajaran bukit panjang berwarna hijau apalagi kalau melihatnya dari tepian sungai Lematang yang saat ini telah ditata menjadi pusat rekreasi maka jajaran bukit panjang terlihat lebih jelas. Yach jajaran bukit panjang ini merupakan gugusan Bukit Barisan yang membentang dari Aceh hingga Lampung di pulau Sumatera yang merupakan pulau terbesar ke–6 di dunia.

Ketika mata kita arahkan ke arah Tenggara di gugusan Bukit Barisan maka kita akan melihat Bukit Serelo yang sudah menjadi ikon Kabupaten Lahat. Bukit Serelo dengan keindahannya yang tiada duanya dan bentuknya yang paling unik maka Bukit Serelo dapat disebut sebagai Bukit Terunik di Dunia. Memang Bukit Serelo sangat unik karena bentuknya ketika di lihat dari arah Timur atau dari arah Kota Muara Enim terlihat seperti telunjuk tangan raksasa maka masyarakat menyebutnya sebagai Bukit Telunjuk. Dan ketika kita melihatnya dari arah Kota Lahat maka Bukit Serelo terlihat bah jempol raksasa sehingga masyarakat menyebutnya sebagai Bukit Jempol atau Gunung Jempol. Wajar bila Bukit Serelo disebut sebagai Bukit Terunik di dunia.

Selain Bukit Serelo di gugusan Bukit Barisan ada juga Bukit Beteri, Bukit Besak, Bukit Lepak Kajang, Bukit Teluk, Bukit Kuning dan Bukit Punggou Lanang. Dari sekian bukit tersebut saat ini yang sangat digandrungi oleh pemuda dan para pendaki adalah BUKIT BESAK.

Bukit Besak berada di desa Tanjung Beringin kecamatan Merapi Selatan diketinggian 640 mdpl. Disebut dengan Bukit Besak, kata besak berarti besar. Dari beberapa bukit yang berada di kawasan Hutan Lindung Isau-Isau ini Bukit Besak memang memiliki ukuran yang paling besar di bagian bawah hingga bagian paling atas. Pada bagian paling atas Bukit Besak dengan ukuran sekitar 5 ha dapat menampung tenda para pendaki sekitar 3.000 tenda di area 3 ha. Dengan daya tampung yang sangat memadai tersebut sehingga Bukit Besak sangat diminati para pendaki dari berbagai daerah di Sumatera Bagian Selatan dan daerah lainnya. Tak heran jumlah kunjungan ke Bukit Besak perminggu mencapai 500 orang bahkan pernah tingkat kunjungan mencapai 7.000 orang pada waktu perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia atau perayaan tujuh belasan. Pada momen ini para pendaki di atas bukit berkemah dan mengadakan upacara peringatan 17 Agustus tepat pada tanggal 17 Agustus.


Selain melakukan pendakian ke atas bukit dengan trekking berjalan kaki dan menikmati keindahan alam perbukitan juga di atas Bukit Besak dapat dilakukan terbang layang atau paralayang. Dengan terbang dari Bukit Besak maka dapat melihat keindahan beberapa bukit disekitar Bukit Besak termasuk Bukit Serelo. Paralayang pertama dilakukan
dari Bukit Besak pada Februari 2018 oleh paralayang dari Bandung dan Inggris. Bentuk bagian atas Bukit Besak yang mirip kubah sempurna, menjadikan bukit berbatu andesit ini menjadi tempat terbaik untuk olahraga Paralayang karena bisa take off dari berbagai penjuru mata angina. Untuk area landingnya di lapangan bola di Desa Tanjung Beringin. Kegiatan terbang dengan paralayang pertama ini ditayangkan oleh TV nasional dengan program Let's Go MNCTV.

Untuk mencapai Bukit Besak para pendaki dari Kota Lahat menuju ke arah Kota Muara Enim dan di persimpangan desa Telatang Kecamatan Merapi Barat setelah melintasi jembatan sungai Lematang belok ke arah kanan. Kondisi jalan dari simpang desa Telantang Kecamatan Merapi Barat hingga Desa Tanjung Beringin Kecamatan Merapi Selatan berupa jalan kabupaten dengan lebar lebih kecil dari jalan lintas Sumatera akan tetapi kondisi jalan cukup baik.

Dalam perjalanan menuju ke Bukit Besak dari simpang Desa Telantang kita disuguhkan pemandangan indah Bukit Serelo dan bisa singgah ke Pusat Latihan Gajah (PLG) Bukit Serelo yang berada di sebelah kiri  jalan Abdul Lani. Pusat Latihan Gajah (PLG) Bukit Serelo merupakan 1 dari 7 PLG yang ada di Indonesia. Disini wisatawan dapat menunggang gajah dan berfoto bersama gajah dengan pemandangan Bukit Serelo dan hutan yang masih lebat. Saat ini di Pusat Latihan Gajah (PLG) Bukit Serelo ada 10 gajah yang terdiri dari 1 gajah jantan dan 9 gajah betina. Dari simpang Desa Telatang Kecamatan  Merapi Barat ke Desa Tanjung Beringing Kecamatan Merapi Selatan berjarak 11 km. Dari desa dapat melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor menuju shelter 1 sejauh 1,2 km dan melanjutkan berjalan kaki hingga ke puncak Bukit Besak sejauh 800 meter.

Seluruh kendaraan roda 4 dapat parkir di Desa Tanjung Beringin sedang sepeda motor parkir di posko pertama pendakian setelah menyeberangi jembatan gantung sungai Serelo. Di posko ini para pendaki akan mendaftarkan diri dan petugas akan mencatat nama, no telephone dan memeriksa bawaan para pendaki. Di Bukit Besak telah diterapkan agar para pendaki membawa turun kembali semua sampah yang dihasilkan oleh pendaki itu sendiri maka dari itu para pendaki diperiksa barang bawaannya. Hal ini untuk mewujudkan kebersihan di Bukit Besak bukan hanya kewajiban petugas tetapi juga menjadi kewajiban pendaki untuk menjaga kebersihan Bukit Besak dan lingkungannya. Di posko ini juga ada fasilitas yang telah dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Lahat melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Lahat berupa gazebo, toilet, area parkir, kios pedagang (plaza) dan gapura.

Penduduk desa Tanjung Beringin pada umumnya bertani berupa bersawah, menanam kopi, karet dan tembakau dengan lokasi di sekitar Bukit Besak. Tembakau dari desa ini terkenal di era tahun 1900an kebawah dengan sebutan Tembakau Perangai dan hingga kini masyarakat masih menanam dan produksi untuk kalangan perokok terbatas. Selain itu di desa Tanjung Beringin juga ada kerajinan membuat kinjar (alat angkut berbentuk keranjang yang diletakkan di punggung), dahulu juga ada kerajinan menganyam tikar tetapi sekarang sudah tidak dilakukan lagi karena para pengrajin sudah tua, kesulitan bahan baku dan daya jual tikar yang rendah.

Masyarakat Tanjung Beringin masih memelihara peninggalan leluhur berupa gotong royong, tradisi pantauan dan sedekah desa yang dilakukan setiap tahun untuk upacara tolak balak yang dipimpin seorang ketua adat yang disebut Jurai Tue. Jurai Tue merupakan ketua desa yang diangkat secara turun menurun secara adat. Setiap kegiatan adat desa akan dipimpin oleh Jurai Tue. Tradisi pantauan merupakan tradisi yang sudah berkembang sejak lama, tradisi pantauan diadakan baik dalam suasana suka maupun duka. Misal dalam suasana sukacita ketika satu keluarga melakukan resepsi pernikahan maka seluruh penduduk desa minimal yang terdekat dengan acara resepsi akan menyediakan makanan dan minuman di setiap rumah dan para tamu yang datang diundang atau dipantau untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan di setiap rumah. Hidangan disiapkan dengan lengkap dari makanan ringan hingga makanan berat lengkap dengan nasi, sayur, lalapan, berbagai sambal, ikan brengkes, gulai ayam nanas, pindang beserta minuman kopi dan teh. Begitu juga dalam suasana duka ketika ada salah warga yang meninggal, para peziarah akan diundang atau dipantau untuk singgah ke setiap rumah untuk makan dan minum.


Dengan daya tarik wisata alam dan budaya yang ada di Desa Tanjung Beringin ini telah mengangkat nama Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Merapi Selatan, Kabupaten Lahat dan Propinsi Sumatera Selatan ke kancah nasional maka dari itu tahun ini Bukit Besak mengikuti ajang bergengsi penghargaan pariwisata nasional berupa Anugerah Pesona Indonesia 2021 kategori Dataran Tinggi. Setiap Kabupaten/Kota se Indonesia mengusulkan atau mengajukan untuk ikut di ajang bergensi ini dan Alhamdulillah untuk kategori Dataran Tinggi, Bukit Besak berhasil masuk nominasi 10 besak mewakili Propinsi Sumatera Selatan.

Secara umum 18 kategori dari Propinsi Sumatera Selatan berhasil masuk 12 kategori yang diwakili oleh 12 Kabupaten/Kota yaitu 1.Makanan Tradisional : Kroket Pedo – Kab.Musi Rawas Utara, 2.Promosi Pariwisata Digital : Aplikasi Disbudpar Pali – Kab.Pali, 3.Brand Pariwisata : It’s OKI – Kab.Ogan Komering Ilir, 4.Cendera Mata : Gambo Muba – Kab.Musi Banyuasin, 5.Olahraga & Petualangan : Jakabaring Sport City – Kota Palembang, 6.Wisata Air : Arung Jeram Sungai Selabung – Kab.OKU Selatan, 7.Dataran Tinggi : Bukit Besak – Kab.Lahat, 8.Situs Sejarah : Megalit Besemah – Kota Pagaralam, 9.Atraksi Budaya : Tari Gending Sriwijaya – Prov.Sumatera Selatan, 10.Festival Pariwisata : Festival Gendang Melayu – Kota Lubuk Linggau, 11.Destinasi Unik : Pantai Bongen – Kab.Musi Banyuasin, 12.Destinasi Baru : Danau Shuji – Kab.Muara Enim.

Kabupaten Lahat pernah mendapatkan Anugerah Pesona Indonesia (API) 2018 dangan kategori Wisata Kreatif Terpopuler didapatkan oleh Pelancu, Desa Ulak Pandan Kecamatan Merapi Barat. Pelancu menjadi juara 1 sedang juara 2 oleh Kampung Bekelir – Kota Tangerang dan juara 3 Pantai Tope Jawa – Kabupaten Takar. Dengan pengalaman ini maka dalam ajang tahun 2021 ini Kabupaten Lahat sudah selayaknya akan menang kembali. Untuk itu kami mohon bantuan seluruh masyarakat Kabupaten Lahat dan Propinsi Sumatera Selatan dimanapun berada untuk mendukung kemenangan BUKIT BESAK – KAB.LAHAT  sebagai Juara 1 Anugerah Pesona Indonesia (API) 2021 kategori Dataran Tinggi dengan cara :

1. Like IG BUKIT BESAK - KAB. LAHAT  di akun @ayojalanjalanindonesia

2. SMS dengan ketik API 10B dan kirim ke 99386

3. Like video youtube  BUKIT BESAK - KAB. LAHAT di channel @apiaward.

 

Tolong bantu share ke keluarga, kawan sekolah, rekan kerja dan kerabat dimanapun berada, terimakasih.

Jumat, 16 Juli 2021

KA GA NGA TANDUK KERBAU Di Marga Empat Suku Negeri Agung


Sumber Daya Alam (SDA) Kabupaten Lahat sangat melimpah yang tersebar di beberapa kecamatan dan tak pernah habisnya untuk digali atau diulas. SDA yang sangat melimpah ini berupa sumber daya alam pertambangan, pertanian, perkebunan, pariwisata, kehutanan, energi dan lainnya Begitu juga Sumber Daya Manusia (SDM) Kabupaten Lahat yang sejak masa prasejarah telah mampu berkarya dengan karya-karya yang maha tinggi seperti kemampuan memahat batu, melukis di dinding batu, memahat kayu, menulis di atas bambu dan tanduk hewan. Peninggalan nenek moyang tersebut masih dapat ditemukan hingga saat ini yang keberadaannya tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Lahat.


Sebelum pemerintahan kolonial Hindia Belanda masuk ke wilayah Sumatera Selatan dan Kabupaten Lahat, di masa itu  sudah mengenal sistim pemerintahan. Seperti pembagian wilayah berdasarkan marga yang terdiri dari beberapa wilayah dibawahnya yang disebut dusun. Sebuah dusun di pimpin seorang Krio/Krie dan marga dipimpin oleh seorang Pasirah.

Setelah Kesultanan Palembang jatuh ke tangan kekuasaan pemerintahan kolonial Hindia Belanda pada tahun 1825 maka pemerintahan kolonial Hindia Belanda membentuk pemerintahan yang disebut dengan Karesidenan Palembang yang dipimpin oleh seorang Residen berkedudukan di Palembang. Karesidenan Palembang dibagi menjadi beberapa Afdeling yang masing-masing dikepalai oleh seorang Asisten Residen. Setiap Afdeling terdiri dari Onder Afdeling yang dipimpin oleh seorang Controleur/Kontroler dan setiap Onder Afdeling terdapat marga-marga.

Afdeling Palembang Ulu atau Palembangsche Bovenladen yang beribukota di Lahat  membawahi 5 Onder Afdeling yaitu Onder Afdeling Lematang Ulu, Onder Afdeling Lematang Ilir, Onder Afdeling Tanah Pasemah, Onder Afdeling Tebing Tinggi dan Onder Afdeling Musi Ulu.

Onder Afdeling Lematang Ulu terdiri dari beberapa marga, dimana setiap marga dipimpin oleh seorang Pasirah,  yaitu Tambelang Gedung Agung, Puntang (Tambelang), Empat Suku Negeri Agung, Manggul, Gumay Lembak, Gumay Talang Ilir, Sikap Dalam Sukalingsing, Penjalang Suka Empayang Kikim, Penjalang Suka Empayang Ilir, Tujuh Pucukan Suku Bunga Mas Saling Ulu, Penjalang Sukapangi, Penjalang Sukalingsing dan Lawang Kulon. (Karesidenan Palembang; Kemas AR Panji).

Wilayah yang saat ini di kenal dengan Merapi Area terbagi menjadi 3 (tiga) kecamatan yang kaya akan sumber daya alam berupa pertambangan batubara dan menjadi sumber PAD Kabupaten Lahat dari sektor pertambahan sejak tahun 2008. Wilayah Merapi Area sebelum tahun 1957 dimana sistem karesidenan dan marga berlangsung terbagi menjadi 3 (tiga) marga yaitu : Tambelang Gedung Agung (14 dusun), Puntang/Tambelang (9 dusun), Empat Suku Negeri Agung (22 dusun).

Marga Tambelang Gedung Agung terdiri dari dusun Gedung Agung hingga dusun Lebuay Bandung yang saat ini menjadi Kecamatan Merapi Timur, Marga Puntang terdiri dari dusun Tanjung Baru hingga dusun Arahan menjadi Kecamatan Merapi Barat dan Marga Empat Suku Negeri Agung terdisi dari : dusun Lebak Budi, Negeri Agung, Ulak Pandan, Suke Cinte, Gunung Agung, Tanjung Pinang, Paye Ilir (Desa Suka Marga), Paye Tengah, Paye Ulu, (Paye Tengah dan Paye Ulu menjadi Desa Payo), Karang Endah, Tanjung Telang, Lubuk Kepayang, Muara Temiang, Padang, Tanjung Menang, Talang Akau (Talang Akar), Lubuk Pedare, Talang Mayang (Suka Merindu), Tanjung Beringin, Pehangai (Perangai), Lubuk Betung/Susukan dan Geramat. Dari 22 dusun yang masuk wilayah Marga Empat Suku Negeri Agung saat ini masuk ke Kecamatan Merapi Barat dan yang berada di sebelah Selatan sungai Lematang menjadi Kecamatan Merapi Selatang. Hal ini dituturkan oleh Ketua Lembaga Adat Desa Ulak Pandan Syamsuro yang didampingi oleh tokoh masyarakat Hasanal Nurdin, Kadus V Sajili, tokoh pemuda Rahmad Saleh, Yoki Witarto dan Juliansyah.


Dalam kunjungan untuk menggali sejarah dan potensi budaya yang nantinya dapat dikembangkan menjadi wisata budaya. Staf Khusus Bupati Lahat Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang juga Ketua Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Panoramic of Lahat, Mario Andramartik bersama Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lahat, Bambang Aprianto, SH,MM berhasil mendapatkan informasi sejarah dan budaya yang ada di Marga Empat Suku Negeri Agung.

Di awal bulan Juni yang merupakan bulan penuh sejarah bagi bangsa Indonesia yang ditandai dengan Hari Lahir Pancasila juga dimanfaatkan untuk menggali sejarah terutama yang berada di wilayah Merapi. Karena selama ini wilayah Merapi lebih identik dengan daerah tambang batubara ternyata menyimpang sejarah yang cukup banyak dan membanggakan. Dalam penelusuran kami di Marga Empat Suku Negeri Agung ditemukan nisan kuno berukir, naskah kuno huruf ka ga nga hingga lempengan tembaga masa Kesultanan Palembang.

Kunjungan pertama kami melihat langsung nisan kuno berukir yang berada sekitar 500 meter dari desa. Kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak ke arah Selatan desa atau ke arah sungai Lematang yang dipandu oleh Rahmad Saleh didampingi Yoki Witarto dan Juliansyah. Di sebuah dataran yang letaknya lebih tinggi dari daerah sekitarnya dan dipenuhi pohon bambu dan nira dekat sebuah danau kecil yang disebut danau Geramban terdapat komplek pemakaman Puyang Tanjung. Dalam 4 kelompok makam di komplek pemakaman ini yang paling menarik adalah makam nisan kuno berukir yang berjumlah 1(satu) nisan sedang nisan lainnya beruapa nisan batu yang sudah dibentuk tetapi tanpa pahatan dan lainnya hanya nisan batu alami polos. Nisan kuno berukir bermotif sulur dedaunan pada bagian atas dan bulatan di bagian bawah. Motif ukiran nisan kuno ini berbeda dengan motif ukiran/pahatan yang kami jumpai di Sekayoen, Kedaton dan Muara Cawang, apa arti motif-motif tersebut perlu kajian lebih lanjut. Arah hadap nisan kuno berukir ke arah Barat dan Timur berbeda dengan arah hadap makam yang baru yang juga kami kunjungi yaitu dengan arah hadap Selatan dan Utara. Tinggi nisan kuno berukir 57cm, tebal 10 cm dan lebar 29 cm lebih kecil dibandingkan dengan nisan kuno berukir di Muara Cawang. Di bagian Barat pemakaman berupa area perkebunan akan tetapi pada awalnya area tersebut merupakan sungai Lematang begitu juga danau Geramban yang mempunyai kedalam hingga 4 m merupakan bagian sungai Lematang sehingga sekarang bagian sungai Lematang yang telah menjadi daratan sekitar 150 m maka tak ayal bila pada awalnya sungai Lematang memang dapat diarungi kapal besar karena memang pada awalnya sungai Lematang memang sungai yang lebar dan besar.

Selanjutnya kami berkunjung ke kediaman keluarga  Suhaimi dimana kami berjumpa Yana (66 tahun) dimana terdapat tanduk kerbau yang mempunyai tulisan huruf ulu atau ka ga nga. Prasasti huruf ulu tanduk kerbau ini mempunyai ukuran panjang 48 cm, lebar ujung (lancipnya) 1,3 cm, lebar ujung (pangkalnya) 14,2 cm. Kondisi prasasti masih bagus  walaupun ada beberapa bagian terkikis. (Prasasti Ulu Tanduk Kerbau, DR Wahyu Rizky Andhifani S.S, M.M). Sedang lempengan tembaga masa Kesultanan Palembang belum dapat kami temui karena sang pemilik atau yang menyimpannya belum dapat kami temui.


Dengan adanya temuan nisan kuno berukir dan prasasti tanduk kerbau di desa Ulak Pandan Marga Empat Suku Negeri Agung membuktikan bahwa daerah ini di masa lalu telah mempunyai nilai-nilai peradaban yang tinggi karena kedua benda tersebut bernilai budaya tinggi dan tidak banyak ditemukan di setiap daerah bahkan jarang atau tidak ditemukan.

Di masa sebelum kemerdekaan juga di desa Ulak Pandan Marga Empat Suku Negeri Agung merupakan sentra industri seperti pabrik tenun, pabrik tauco dan pabrik batubata dan saat ini juga terdapat destinasi wisata Pelancu yang pernah mendapat penghargaan bergengsi tingkat nasional sebagai Destinasi Unik Terpopuler Anugerah Pesona Indonesia tahun 2018.

Putra-putra terbaik dari Marga Empat Suku Negeri Agung terus berkarya dari masa ke masa dan saat ini  putra terbaik dari Marga Empat Suku Negeri Agung yaitu Cik Ujang, SH menjadi Bupati Lahat dan Fitrizal Homidi, ST menjadi Ketua DPRD Lahat. Hal ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Marga Empat Suku Negeri Agung dan menjadi motivasi ke depan akan lahir putra-putra terbaik dari marga ini yang akan melanjutkan perjuangan para pendahulunya yang telah mencatatkan tinta emas pada masanya.

Peninggalan budaya/sejarah tersebut dapat dijadikan destinasi wisata yang akan menarik wisatawan berwisata ke desa yang akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan perekonomian masyarakat desa, pendapatan desa dan pendapatan asli daerah Kabupaten Lahat. (Mario Andramartik).

Kamis, 08 Juli 2021

PENINGGALAN BUDAYA DESA LEBAK BUDI

Ada ungkapan yang mengatakan kekayaan budaya dan wisata Kabupaten Lahat tak akan pernah habisnya untuk digali dan diulas. Seperti kita ketahui bersama saat ini Kabupaten Lahat terkenal dengan julukan Negeri Seribu Megalit, hal ini karena memang di Kabupaten Lahat ditemukan banyak situs megalit apalagi pada tahun 2012 Kabupaten Lahat mendapatkan penghargaan sebagai pemilik situs megalit terbanyak se Indonesia. Selain itu Kabupaten Lahat juga mempunyai banyak air terjun dan yang telah terdata oleh Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Panoramic of Lahat sebanyak 179 air terjun yang tersebar di berbagai desa dan kecamatan juga potensi wisata lainnya seperti danau, sungai, bukit dan potensi di sektor kebudayaan, pertanian, perkebunan, perikanan dan pertambangan. 

Selama ini kita sering mengelompokkan potensi Kabupaten Lahat misalnya Merapi Area terkenal merupakan daerah pertambangan batubara, Kikim Area dengan potensi perkebunan karet dan sawit, Gumay Ulu hingga Jarai Area perkebunan kopi dan pariwisata, Kota Agung seputaran dengan potensi pertanian. Akan tetapi setelah kami survey secara mendetail banyak potensi yang belum terungkap semua per area tersebut. Misalnya kawasan Merapi Area yang kita sebut sebagai daerah pertambangan batubara ternyata juga mempunyai perkebunan kopi dengan kwalitas kopi terbaik dengan score nilai hasil uji laboratorium mempunyai nilai di atas 80 poin. Juga mempunyai peninggalan sejarah dan budaya yang cukup banyak. Kami sangat terkejut ketika kami ke Desa Lebak Budi Kecamatan Merapi Barat, di desa ini kami melihat rumah adat Kabupaten Lahat yaitu Ghumah Baghi yang sama persis dengan ghumah baghi yang ada di daerah uluan seperti Kota Agung area hingga Jarai Area dan Tanjung Sakti. Selama ini kami menganggap bahwa ghumah baghi di Kecamatan Lahat hingga Merapi Area tidak ada. Dengan adanya ghumah baghi di Desa Lebak Budi mematahkan argumentasi yang selama ini berkembang. 

Untuk mendata secara detail peninggalan sejarah dan budaya yang ada di Merapi Area khususnya di Kecamatan Merapi Barat, Staf khusus Bupati Lahat Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Matcik,SH mengajak Kepala Museum Balaputradewa Palembang Candra Amprayadi untuk mengunjungi Desa Lebak Budi Kecamatan Merapi Barat. Dalam kegiatan pendataan ini jugo ada Staf Khusus Bupati Lahat Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang jugo penggiat budaya dan wisata, Mario Andramartik dan Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lahat Bambang Aprianto,SH,MM yang mewakili Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten LahatTim Pendataan yang dipimpin oleh Matcik langsung menuju rumah Syahrudin sang pemilik rumah adat yang berada di Desa Lebak Budi Kecamatan Merapi Barat. Rumah panggung berwarna cat hijau yang merupakan rumah adat dengan ukiran atau pahatan pada bagian dinding depan dan samping. Akan tetapi sepintas kita tidak akan melihat rumah ini sebagai ghumah baghi yang penuh dengan makna karena ciri khas ghumah baghi dari tampak depan sudah tertutup dengan penambahan bangunan, bagian bawah rumah sudah ada dinding beton, tiang rumah yang aslinya dari kayu bulat utuh sudah diganti dengan tiang beton, atap rumah yang berbentuk pelana kuda juga sudah berubah. Tetapi berbagai perubahan tersebut masih menyisakan beberapa ciri khas ghumah baghi seperti pahatan pada bagian depan dan samping rumah. Pahatan yang ada di bagian depan rumah bagian atas sama persis baik tata letak dan motif pahatan dengan ghumah baghi daerah uluan. Akan tetapi dinding rumah sudah di cat warna hijau sedang aslinya ghumah baghi tanpa cat, pahatan aslinya tidak di cat sedang pada rumah ini sudah di cat warna kuning emas. Walaupun ghumah baghi ini sudah banyak mengalami perubahan tetapi masih menunjukkan suatu ciri bahwa sang pemilik rumah bukanlah orang sembarang biasanya merupakan keturunan dari para tokoh desa atau pemimpin desa masa lalu yang mempunyai pengaruh di desa. Dan ternyata dugaan kami benar adanya bahwa Syarudin merupakan keturunan Pasirah Marga Empat Suku Negeri Agung. Dengan adanya ghumah baghi di desa Lebak Budi Kecamatan Merapi Barat maka menambah perbendaharaan jumlah ghumah baghi di Kabupaten Lahat baik jumlah ghumah baghi maupun letak ghumah baghi. Selain ghumah baghi juga ada peninggalan budaya lainnya yang berada di ghumah baghi yang didiami Syahrudin antara lain benda-benda keramik, topi yang pernah dipakai oleh Pasirah, aksara Ka ga nga yang ditulis di sepotong bambu bulat utuh berwarna kuning, lempengan tembaga bertuliskan huruf Jawa yang kemungkinan peninggalan masa Kesultanan Palembang dan berbagai benda pusaka lainnya yang belum dapat kami lihat. 
Semua temuan tersebut selama ini belum pernah diulas dan diungkap secara umum jadi temuan ini termasuk langka smoga ke depan dapat diteliti dan dikaji lebih dalam lagi untuk mengungkap semua peninggalan budaya dan sejarah khususnya dari Marga Empat Suku Negeri Agung. Matcik tidak salah mengundang kepala museum Balaputradewa Palembang ke desa Lebak Budi yang juga merupakan desa kelahiran Bupati Lahat saat ini Cik Ujang karena desa Lebak Budi yang dahulunya merupakan bagian dari Marga Empat Suku Negeri Agung memang menyimpan banyak peninggalan budaya dan sejarah.

Sebelumnya desa Lebak Budi dan beberapa desa lainnya seperti desa Negeri Agung dan Ulak Pandan berada di bagian Timur sungai Lematang dan diperkirakan pada awal tahun 1900an mulai berpindah ke lokasi saat ini dan desa lama yang telah ditinggalkan menjadi lokasi berkebun dengan mayoritas menjadi kebun karet, sedikit kebun kopi dan sawah. Tidak mengherankan bila kawasan Bukit Serelo atau Bukit Jempol menjadi bagian dari desa Lebak Budi, Negeri Agung dan Ulak Pandan Kecamatan Merapi Barat walaupun letaknya di seberang sungai Lematang. 

Di kawasan Bukit Serelo setidaknya ada 2 air terjun yang masuk wilayah desa Lebak Budi dan Ulak Pandan kecamatan Merapi Barat. Jadi air terjun juga ditemukan di kecamatan Merapi Barat. Dengan banyaknya temuan peninggalan budaya dan sejarah di desa Lebak Budi maka dapat dijadikan destinasi wisata budaya misalnya dibuat suatu upacara penyucian benda-benda pusaka dengan prosesi budaya lokal yang dikemas sedemikian rupa sehingga bisa mendatangkan wisatawan. Nah selanjutnya terkait adanya aksara ka ga nga atau huruf ulu maka bisa dibuat kegiatan belajar menulis dan membaca huruf ka ga nga tersebut. Selain potensi budaya dan sejarah yang menjadi wisata budaya juga terdapat potensi wisata alam seperti sungai Lematang yang berada di desa ini dapat dibuat paket wisata menyusuri sungai dengan perahu sehingga wisatawan dapat menikmati pengarungan sungai Lematang sekaligus juga bisa menikmati keindahan Bukit Serelo atau Bukit Jempol. Di desa Lebak Budi juga ada jembatan gantung yang ikonik dan jembatan gantung ini juga bisa menjadi destinasi wisata. Dari jembatan gantung dapat menikmati keindahan Bukit Serelo atau Bukit Jempol. 

Dengan pengembangan wisata budaya dan wisata alam yang ada maka dapat menambah pendapatan masyarakat dan desa di samping pendapatan dari sektor pertambangan batubara, pertanian dan perkebunan. Desa Lebak Budi Kecamatan Merapi berada sekitar 13 km dari pusat Kota Lahat, dari arah Kota Lahat melalui jalan lintas Sumatera ke arah Kota Muara Enim sebelum perlintasan kereta api dekat SD Negeri 3 Merapi Barat atau setelah Indomaret belok ke kanan. Sekitar perjalanan 500 meter akan bertemu dengan Kantor Desa dan Bangunan Gedung Serbaguna Desa Lebak Budi. Berbatasan langsung dengan sungai Lematang di bagian Barat dan Utara, desa Tanjung Baru di sebelah Timur dan Desa Negeri Agung di bagian Selatan. (By Mario Andramartik).